3 Perangkap Dalam Perekrutan Karyawan Senior

 In Artikel

Mempekerjakan karyawan tingkat senior atau juga disebut sebagai perekrutan C Suite, sangat penting untuk keberhasilan bisnis Anda. Namun, merekrut karyawan tingkat senior berbeda dengan merekrut karyawan entry level.

Menurut Business 2 Community, sebuah studi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan pengembangan kepemimpinan di Pennsylvania menemukan bahwa empat dari sepuluh manajer dan eksekutif yang baru dipromosikan gagal dalam 18 bulan memulai pekerjaan baru. Faktor utama kegagalan tersebut adalah keputusan perekrutan yang buruk. Kegagalan ini kemudian dapat memberikan efek riak yang memengaruhi tidak hanya dari aspek finansial, tetapi juga semangat karyawan lainnya serta reputasi perusahan.

Untuk menghindari atau meminimalkan kemungkinan kegagalan seperti itu, berikut adalah tiga perangkap umum yang harus dihindari perusahaan Anda selama proses perekrutan karyawan tingkat senior:

  1. Tidak menetapkan ekspektasi yang jelas

Menetapkan ekspektasi yang jelas sejak awal merupakan hal mendasar. Anda dapat mulai dengan menjelaskan peran pekerjaan, tujuan yang diinginkan, dan hasil. Juga, beri tahu para kandidat tentang nilai-nilai, harapan, dan proses perusahaan.

Terlepas dari sejarah karir kandidat yang cemerlang, jika perusahaan Anda tidak menetapkan ekspektasi yang jelas, akan ada peluang besar bahwa karyawan senior tersebut akan bingung dan menyebabkan tim mereka gagal dalam mencapai tujuan perusahaan.

  1. Meremehkan kecerdasan emosi

Menurut penelitian, 75% karyawan gagal beradaptasi dengan budaya perusahaan dan ini adalah salah satu alasan utama kegagalan dalam pekerjaan baru mereka. Temuan ini juga berlaku untuk karyawan tingkat senior yang baru.

Kegagalan dalam beradaptasi terkait erat dengan kecerdasan emosional. Itu adalah alasan mengapa CEO HTC Pete Chou digantikan dan CEO TIMES inc. Jack Griffin dipaksa mundur. Memiliki kecerdasan emosi yang baik sangat penting bagi seorang pemimpin. Meskipun kecerdasan sangat sulit untuk dievaluasi dalam proses perekrutan, selama wawancara Anda dapat mengajukan pertanyaan dadakan, seperti apa momen terberat dalam hidup mereka dan bagaimana mereka menanganinya. Ini dapat membantu Anda mengukur kecerdasan emosional kandidat.

  1. Tidak melakukan penyaringan latar belakang yang mendalam

Meskipun resume mereka terlihat sangat bagus, Anda harus tetap skeptis dan melakukan pemeriksaan latar belakang yang mendalam. Reverse directorship check adalah salah satu pemeriksaan penting dalam penyaringan latar belakang yang harus dilakukan sebelum mengambil keputusan perekrutan. Dengan melakukan pemeriksaan ini, Anda dapat mengidentifikasi setidaknya dua hal:

  1. Konflik kepentingan
  2. Diskualifikasi. Adanya catatan diskualifikasi menunjukkan bahwa seorang kandidat tidak cocok untuk memegang jabatan direktur atau sama sekali dilarang melakukannya.

Dalam proses perekrutan, sebagian besar perusahaan sering menemukan proses penyaringan latar belakang sebagai tahap yang membosankan, memakan banyak waktu, dan sumber daya hingga mereka memilih untuk mengabaikannya. Integrity Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri kepatuhan, akan melakukan penyaringan latar belakang mengenai calon potensial tingkat senior Anda, termasuk reverse directorship secara nasional. Jangan biarkan perusahaan Anda terpapar risiko; hubungi kami hari ini.

 

Baca Juga:

3 Cara Tingkatkan Efektivitas Proses Rekrutmen Perusahaan Anda

Begini Reverse Directorship Search Menguntungkan Perusahaan Anda

Sebabkan Kerugian, Ini Cara Perusahaan Hindari Negligent Hiring

 

 

 

Photo by ?????? ?????? on Unsplash

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search