Penipuan Iklan: Indonesia Berpotensi Merugi Hingga 1.17 T Rupiah

 In Artikel

Ad fraud atau penipuan iklan menjadi masalah baru yang sedang dihadapi pemasar di Indonesia. Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis oleh Mobile Marketing Association (MMA) dan Integral Ad Science (IAS), penipuan iklan menyebabkan perusahaan merugi sebesar 16.4 milyar dollar AS secara global pada 2017. Menurut country manager MMA Shinta Tolani seperti dikutip dari The Jakarta Post potensi kerugian Indonesia akibat penipuan iklan diprediksi hingga 1.17 triliun rupiah tahun ini.

 

Faktor yang berkontribusi

Menurutnya tingkat penipuan iklan yang tinggi di Indonesia karena skala dan volume penetrasi mobile, penggunaan e-payment dan pengeluaran pemasaran mobile yang tumbuh secara signifikan. Penipuan iklan pada dasarnya merupakan upaya pelaku memanipulasi impresi iklan sehingga pemasar membayar uang lebih untuk iklan yang tidak tersampaikan dengan baik. Dengan kata lain, pemasar menginvestasikan uang mereka untuk iklan yang sia-sia.

Salah satu contoh modus yaitu publisher memasang iklan dari pemasar ke situs-situs yang tidak sesuai dengan target pasar sehingga impresi iklan mungkin tinggi namun konversi rendah. Impresi yang tinggi tentu menguntungkan publisher, tapi pemasar dirugikan dengan konversi yang rendah karena target pasar yang tidak sesuai.

Baca Juga: Influencer Fraud: Risiko Mengintai di Balik Pemasaran Influencer 

Kurangnya pemahaman juga menjadi faktor yang berkontribusi pada tingginya potensi penipuan iklan di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut masih ada 33% pemasar yang rendah pemahamannya tentang penipuan iklan. Ecommerce, teknologi finansial, FCMG dan game merupakan sektor-sektor yang paling terpapar penipuan iklan.

Penipuan iklan adalah masalah semua pihak karena merugikan pemasar yang menghabiskan sumber daya dalam menyampaikan pesan mereka, merugikan publisher yang reputasinya ternoda, dan memicu gesekan di dalam ekosistem yang menyebabkan perselisihan.

 

Lawan penipuan iklan

Penipuan iklan merupakan masalah yang rumit. Seringkali penipuan terjadi tidak secara eksplisit ilegal dan ini kerap terjadi di negara yang hukum kriminal siber berjalan tidak efektif. Oleh sebab itu, upaya-upaya proaktif yang efektif untuk menghindari penipuan ini lebih disarankan daripada mengandalkan hukum kriminal siber.

Upaya-upaya tersebut antara lain pemasar perlu membangun sistem berbasis intelijen data untuk memantau iklan dan merek mereka, perlu ada komunikasi yang terbuka antara pemasar dan publisher tentang benchmark iklan, dan pemasar perlu melakukan due diligence saat melakukan seleksi terhadap publisher. Due diligence perlu dilakukan karena ada kalanya pengiklan hanya mengandalkan daftar hitam publisher yang sayangnya tidak selalu diperbarui secara berkala. Untuk informasi lebih detail tentang due diligence, jangan ragu untuk menghubungi kami.

Tingkat penipuan tak mungkin ditekan hingga ke angka nol. Tapi, setidaknya angka penipuan tersebut bisa diminimalkan dengan upaya-upaya pencegahan yang efektif.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search