Peran Background Screening di Era ‘Gig Economy’

 In Artikel

‘Gig economy’ telah lahir karena kemajuan teknologi. Pekerjaan tidak tetap atau pekerjaan paruh waktu yang dilakukan oleh para milenial adalah ciri utama dari gig economy – yang juga kerap disebut ‘sharing economy’. Aplikasi transportasi (contohnya, GoJek dan Grab), penyewaan rumah (contohnya, Airbnb, 99acres.com), freelance (social media influencer, penulis lepas, desainer lepas dan lainnya) adalah beberapa dari banyaknya contoh pekerjaan di era ‘gig economy’.

Forbes melaporkan bahwa tahun 2030, milenial tidak akan lagi nyaman bekerja dengan model jam 9-5 seperti halnya hari ini. Dengan kata lain, keberadaaan pekerja lepas atau pekerja mandiri akan meningkat dan akan menjadi hal yang lumrah tidak lama lagi.

 

Risiko-risiko

Di era ‘gig economy’, para pekerja lepas adalah mereka yang saling berbagi aset untuk pekerjaan sementara. Mereka berbagi kendaraan dengan penumpang melalui aplikasi transportasi. Mereka berbagi ruangan atau rumah atau asrama dengan para turis melalui aplikasi penyewaan rumah. Mereka juga berbagai informasi pribadi satu sama lain, seperti nomor telepon dan alamat rumah. Merek-merek terkenal berbagi kepercayaan dan reputasi dengan para influencer. Mereka saling berbagi aset tanpa saling bertatapan langsung atau bahkan sangat mungkin tanpa mengenal satu sama lain dan inilah yang membuat mereka rentan terhadap risiko fraud dibanding model bisnis konvensional.

Ada beberapa kasus fraud yang pernah terjadi di era ‘gig economy’. Di Indonesia, Grab dan Go-Jek, dua platform raksasa di industri ride-sharing pernah mengalami kerugian karena fraud. Ketatnya persaingan di antara para pengemudi membuat sebagian mereka melakukan kecurangan untuk mendapatkan keuntungan lebih. Dari order fiktif – disebut juga opik – hingga kecurangan cash payment fraud, aneka fraud tersebut menyebabkan bisnis merugi hingga milyaran rupiah.

Di Amerika Serikat, ada banyak laporan mengenai kekerasan, pelecehan seksual, dan pencurian terhadap penumpang aplikasi transportasi. Tahun 2015, seorang pengemudi Uber bernama Talal Chamout harus mendekam di penjara selama 25 tahun karena menguntit dan menyerang secara seksual penumpangnya.

Sway Ops menemukan bahwa konten-konten bertagar #sponsored dan #ad dalam sehari menghasilakan lebih dari 50% keterlibatan palsu. Mereka juga menemukan bahwa lebih dari 15% influencer yang bertugas untuk membuat post bersponsor sebenarnya tidak pernah benar-benar membuatnya. Influencer curang ini akan merusak reputasi merek dan menyebabkan kerugian sejumlah materi.

 

Baca Juga: 4 Tren Rekrutmen 2019 Yang Perlu Disimak

 

Bagaimana background screening menjaga bisnis di era gig economy

Selain akan menjadi hal yang lumrah, ‘gig economy’ juga membawa risiko-risiko fraud yang perusahaan harus cegah. Salah satu tindakan pencegahan yang bisa dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan background screening terhadap pekerja lepasnya.

Namun, melakukan background screening di ‘gig economy’ berbeda dengan pekerjaan seperti saat ini. Sebuah perusahaan harus melakukan background check dengan cepat dan akurat juga memproses laporan dalam waktu yang amat singkat. Hal ini karena jeda waktu antara proyek diterima hingga dimulai sangat singkat. Yang lebih penting lagi adalah menetapkan kebijakan background screening yang kuat dan bekerja sama dengan penyedia jasa background screening yang berpengalaman karena sangat penting untuk mendapatkankan kerpercayaan dan meminimalkan biaya.

Lebih dari 17 tahun Integrity dipercaya oleh klien-kliennya sebagai penyedia jasa mitigasi, termasuk layanan background screening. Apabila perusahaan Anda membutuhkan informasi detail mengenai cara kerja screening untuk perusahaan Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

Baca Juga: Freelancer Menjamur, Ini 3 Poin Penting Dalam Background Check

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search