Pengintaian Media Sosial: Cara Efektif Melacak Keberadaan Pelaku Fraud

 In Artikel

Apa yang akan perusahaan Anda lakukan apabila salah seorang karyawan melakukan sebuah tindak kecurangan, misalnya menggelapkan dana atau mencuri properti perusahaan, lalu menghilang tanpa jejak?

Anda mungkin perlu melakukan investigasi untuk menemukan karyawan tersebut dan jenis investigasi yang Anda butuhkan adalah skip tracing. Seperti dikutip dari kamus Oxford, skip tracing adalah “sebuah tindakan atau praktik menemukan orang hilang atau orang yang terlibat utang, terutama sebagai seorang profesional”. Skip tracing adalah salah satu investigasi paling menantang karena klien biasanya memiliki keterbatasan informasi atau data terkait aktivitas atau lokasi terakhir target.

Untungnya kita hidup di mana milenial sedang memasuki masa produktif. Artinya, secara umum karyawan di dunia ini adalah milenial atau Gen Y. Jika karyawan yang melakukan tindak kecurangan dan menghilang adalah milenial, maka kita sudah bisa melakukan skip tracing terhadapnya.

 

Gen Y: Milenial dan aktivitas media sosial

Berdasarkan banyak penelitian dan klasifikasi, milenial secara umum dikategorikan sebagai orang-orang yang lahir antara 1980 dan awal 1990. Generasi sebelum mereka disebut generasi X dan para milenial disebut generasi Y. Generasi ini disebut milenial karena umumnya mereka lahir berdekatan dengan era milenium (tahun 2000-an). Salah satu karakter paling menonjol dari milenial adalah keakraban mereka dengan teknologi komunikasi, digital dan media.

Dalam beberapa penelitian dan artikel terkait milenial dan aktivitas-aktivitas online (terutama di platform media sosial), ditemukan bahwa milenial memiliki ketergantungan pada media sosial dan engagement – likes, comments dan shares. Mereka berbagi berbagai hal dan tidak pernah khawatir dengan kemanan dan privasi online mereka. Sebuah survei mengatakan bahwa 56% milenial cenderung suka berbagi lokasi. Milenial sangat aktif dalam menggunakan media sosial karena mereka ingin mendapatkan popularitas. Kebiasaan tersebut memberikan kami sebuah cara untuk menemukan mereka (apabila mereka menghilang atau kabur karena melakukan tindak kecurangan) yaitu dengan menggunakan metode pengintaian media sosial atau social media surveillance.

 

Pengintaian media sosial

Norris dan Armstrong dalam buku yang berjudul The Maximum Surveillance Society: The Rise of CCTV mendefinisikan pengintaian atau surveillance sebagai proses menonton dan mengawasi individu atau populasi. Pengintaian menjadi inti aktivitas dalam melakukan skip tracing. Setelah mendapatkan informasi tentang lokasi target, maka pengintaian siap dilakukan. Namun, pengintaian dengan cara konvensional memakan banyak sumber daya. Di masa kini, ada cara baru melakukan pengintaian yaitu pengintaian media sosial.

Christian Fucjs menulis dalam sebuah artikel akademik berjudul Social Media Surveillance bahwa pengintaian media sosial adalah pengintaian profil yang mengandung informasi dari berbagai konteks sosial yang berbeda. Pengintaian media sosial juga merupakan kegiatan mengumpulkan konstruksi identifikasi kolaboratif dengan bantuan gambar, dinding komentar dan sebagainya. Informasi-informasi tersebut (yang dipublikasi secara online di akun media sosial seseorang) bisa diakses oleh publik dan membuat publik bisa melakukan pengintaian berdasarkan informasi cuma-cuma.

Milenial biasanya berbagi lokasi dengan berkomentar atau memperbarui status tentang aktivitas-aktivitas mereka dan informasi relevan lainnya yang menjadi kunci dalam pengintaian media sosial. Oleh karena itu, kami melakukan pengintaian berdasarkan akun media sosial mereka. Untuk informasi lebih detail mengenai pengintaian media sosial dan layanan investigasi bisnis lainnya, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

 

Baca Juga: Pengintaian Media Sosial (2): Sebuah Kisah Sukses Pelacakan Pelaku Fraud

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search