Pengintaian Media Sosial (2): Sebuah Kisah Sukses Pelacakan Pelaku Fraud

 In Artikel

Tim investigasi kami sudah melakukan beberapa investigasi, termasuk investigasi skip tracing. Salah satu investigasi tersebut menggunakan social media surveillance atau pengintaian media sosial yang terbukti efektif. Kasus bermula ketika seorang karyawan laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional menghilang setelah tertangkap tangan mencuri produk-produk perusahaan selama lebih dari satu tahun. Sebelum kami mulai menginvestigasi kasus ini, perusahaan atau klien sudah mencari target selama tiga bulan dan tidak berhasil menemukannya. Tim hanya menerima informasi dari klien bahwa karyawan yang menghilang tersebut atau target adalah seorang perjaka, tinggal sendiri dan tidak memiliki keluarga di kota tersebut.

Kami mendapatkan informasi tentang bar dan loungeyang biasanya ia kunjungi. Salah seorang investigator kami melakukan kunjungan lapangan ke tempat-tempat tersebut dan menemukan fakta bahwa target kerap menghabiskan uang dengan berpesta dan minum. Di tempat-tempat tersebut, orang-orang mengenalnya dengan nama alias. Berdasarkan informasi tersebut, tim melakukan media search di banyak platform media sosial menggunakan alias tersebut (tim sudah melakukan media search, tetapi tidak menemukan apapun). Kami menemukan sebuah akun di salah satu platform media sosial yang ternama di kalangan milenial dan informasi pada akun tersebut mengindikasikan bahwa akun tersebut milik target, meskipun akun dikunci. Ia juga hanya memiliki beberapa teman yang menjadi follower-nya.

Berdasarkan informasi terkait aktivitas kebiasaannya tersebut, tim kami membuat akun palsu sebagai perempuan di platform media sosial tersebut. Tim melengkapi akun dengan informasi yang kami asumsikan dan analisa bisa menarik target. Kami juga mem-posting foto-foto terkait kehidupan pesta untuk meyakinkan target agar menerima permintaan pertemanan dari akun palsu tim. Seminggu kemudian, target menerima permintaan dan akhirnya tim bisa melihat semua aktivitas-aktivitas yang ia posting pada akunnya.

Meskipun status target adalah pelarian (perusahaan sudah melaporkannya ke polisi), ia masih memperbarui informasi tentang kehidupannya, contohnya ke mana ia pergi setiap hari. Ia juga men-tag setiap lokasi (terutama yang menarik, contohnya bar, hotel, bioskop, dan sebagainya) yang ia kunjungi. Ia sangat aktif dalam memperbarui informasinya. Sisanya sangat mudah bagi tim untuk menyelesaikan kasus.

Setelah kami akhirnya berhasil mengidentifikasi kota di mana ia tinggal saat itu, kami mengirimkan tim ke kota tersebut untuk melakukan pengintaian lanjutan terhadap media sosialnya dan mendatangi setiap tempat yang ia posting. Kurang dari seminggu, kami berhasil menemukannya, mengikutinya hingga ke rumah dan melakukan pengintaian selagi terus berkomunikasi dengan polisi di kota tersebut. Akhirnya, dengan bantuan dari polisi, kami bisa menangkapnya dan kasus ditutup.

Itulah kehidupan milenial. Mereka selalu ingin tampil dan menunjukkan kehidupan mereka di media sosial. Mereka lupa tentang batas antara informasi yang bersifat pribadi dan publik. Mereka membagikan semua hal tentang mereka, lokasi, foto, rumah, nomor plat kendaraan dan sebagainya. Mereka berupaya menarik orang dengan kehidupan yang mereka buat terlihat bahagia. Mereka tidak peduli dengan masalah mereka dan ketika masalah tersebut terkait dengan kecurangan, nyatanya aktivitas media sosial mereka benar-benar membantu kami menangkap mereka.

Integrity sudah dipercaya oleh banyak klien sebagai penyedia layanan solusi mitigasi, termasuk investigasi, selama lebih dari tujuh belas tahu. Apabila perusahaan Anda mengalami kesulitan dalam mencari karyawan yang diduga melakukan aktivitas kecurangan, atau apabila perusahaan Anda membutuhkan informasi detail terkait investigasi bisnis, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui contact@integrity-indonesia.com.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search