Ketika Startup Terlalu Jauh Mempraktikkan ‘Fake it till you make it’

 In Artikel

Di mana ada aliran uang, di situlah peluang terjadinya fraud. Bisnis startup yang dibanjiri jutaan atau milyaran dollar dari para investor menjadi lahan basah bagi para pelaku fraud. Ini yang terjadi pada unicorn asal Mexico, Yogome, startup yang bergerak di bidang pendidikan teknologi (EdTech). Salah seorang pendirinya, Manolo Diaz diduga memanipulasi informasi untuk mendapatkan keuntungan dari para investor.

Dikutip dariEntrepreneur, salah seorang narasumber yang tak disebutkan namanya mengatakan bahwa  Diaz memanipulasi informasi perusahaan – jumlahdownloaddanrevenueyang dihasilkan dari aplikasi game buatannya – yang ia berikan pada investor, mitra dan karyawan. Seorang pegawai yang mencurigai hal tersebut kemudian mengungkapkan kecurigaannya pada seorang investor. Dari situlah kemudian bergulir investigasi.

Sebelum kasus Yogome, ada kasus fraud yang melibatkan Theranos, startup yang bergerak di bidang teknologi kesehatan. CEO Theranos, Elizabeth Holmes menjadi terdakwa kasus investasi bodong lantaran produkperangkat portable analisis darah yang diklaimnya mampu mendiagnosa berbagai penyakit seseorang ternyata tak terbukti.

Theranos dan Yogome hanyalah puncak gunung es dari kasus-kasus fraud yang banyak terjadi pada startup. Kultur ‘Fake it till you make it’ yang populer di kalangan startup banyak dituding sebagai biang masalah. Secara historis tak ada yang salah dengan kultur tersebut karena para investor menerapkannya untuk mendorong para startup agar memiliki visi besar dan tujuan jauh ke depan serta mampu meyakinkan investor tentang bisnis mereka. Banyak startup yang kemudian sukses menjadi raksasa dengan kultur tersebut. Namun, ada pula yang justru terperosok ke dalam jurang tindakan kriminal.

Kultur tersebut menjadi bermasalah ketika startup mempraktikkannya terlalu jauh. Umumnya yang terjadi adalah klaim-klaim yang mereka ungkap demi mendapatkan suntikan dana, ternyata hingga batas waktu tertentu tak dapat dibuktikan. Situasi inilah yang kemudian mendorong mereka melakukan segala cara untuk menutupi masalah tersebut demi menjaga kepercayaan investor hingga terjadilah fraud yang merugikan para pemegang kepentingan.

Metode fraud berubah-ubah sesuai zaman, namun prinsip fundamentalnya tetaplah sama.Oleh karena itu, upaya mitigasi fraud dengan melakukan due diligence selalu menjadi tahap krusial bagi investor atau mitra bisnis sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau menjalin kerjasama bisnis. Due diligence memang mahal dari segi biaya dan waktu serta membutuhkan keahlian tertentu untuk mendapat hasil investigasi yang valid. Namun, apabila tidak melakukan due diligence, risiko fraud membawa kerugian yang jauh lebih besar di masa mendatang.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search