Cara Blockchain Lindungi Data Digital

 In Artikel

Seiring dengan perkembangan teknologi, para peretas terus menemukan cara baru untuk melakukan pelanggaran data. Tahun 2018 menorehkan catatan buruk dalam masalah keamanan data lantaran serangkaian kebocoran data terbesar terjadi. Mengacu pada Breach Level Index jumlah kebocoran data pada semester awal tahun 2018 adalah 3.3 juta data.

Jumlah tersebut menandakan kenaikan 72% dibanding periode yang sama tahun 2017. Beberapa kebocoran data terbesar terjadi sepanjang 2018 di antaranya yaitu Facebook yang mengalami insiden keamanan hingga mempertaruhkan 2 miliar lebih datat penggunanya dan jaringan hotel besar, Marriot yang mengalami kebocoran data lebih dari 500 juta pelanggannya.

Dengan mengakses data-data tersebut pelaku bisa memanfaatkannya untuk melakukan tindak kecurangan (fraud) yang merugikan pemilik data dan merusak reputasi perusahaan. Pelaku bisa saja mencuri data kartu kredit dan menyalahgunakannya untuk bertransaksi online. Bagi sebuah bisnis pencurian identitas bisnis bisa menimbulkan kerugian material dan tercorengnya reputasi.  

Tahun 2019 menjadi harapan baru dalam pengembangan sistem keamanan data karena penerapan teknologi blockchain yang kian lumrah. Bagaimana blockchain berkontribusi dalam melindungi keamanan data?

Cara paling sederhana untuk menyimpan data secara online adalah menggunakan penyimpanan cloud. Namun, dengan meningkatnya permintaan dan penggunaan, sistem penyimpanan tersentral ini telah menjadi target utama peretasan dan pelanggaran data. Hal ini membuat keamanan data makin rentan.

Masalah lainnya yaitu data biasanya tidak dienkripsi selama transmisi sehingga data dapat diintersep selama transmisi dari komputer pengguna ke cloud. Bahkan sekalipun data dienkripsi, kunci enskripsi disimpan oleh penyedia layanan cloud. Ini juga menjadi faktor risiko keamanan data.

Berbeda dengan penyimpanan tersentral seperti cloud, blockchain merupakan sistem buku besar digital yang desain dasarnya memiliki dua karakter unik yaitu desentralisasi dan immutable. Desentralisasi yaitu data-data yang diinput akan didistribusikan, diperbarui dan disinkronkan ke semua komputer yang saling terhubung dalam jaringan dan tak tergantung pada satu server.

Dengan kata lain data disebar ke seluruh komputer dalam jaringan sehingga hanya pengguna yang berada dalam jaringan memiliki kontrol terhadap data tersebut. Apabila satu server down, maka data masih disimpan dalam jaringan komputer lain.

Immutability kemampuan blockchain melindungi data dengan hash kriptografi. Dengan enkripsi tersebut data yang sudah dimasukkan dalam jaringan tidak akan bisa dimodifikasi atau diubah, namun blockchain akan mencatat apabila ada penambahan data baru dan perubahan lainnya.

Contohnya, apabila data-data medis pasien disimpan dalam jaringan berbasis blockchain, maka data-data tersebut akan disimpan di semua komputer-komputer yang terhubung dalam jaringan. Setiap informasi, setiap transaksi, setiap login pengguna dicatat, disimpan, dan dikonfirmasi oleh semua pihak yang terlibat.

Bahkan Setiap kali ada percobaan peretasan atau modifikasi data, seluruh pengguna akan mendapatkan notifikasi. Jaringan berbasis blockchain juga akan sulit ditembus peretas karena ia harus menembus tak hanya satu server, tapi banyak server dalam satu waktu yang secara teknis nyaris tidak mungkin. Dengan keunggulan blockchain tersebut, sulit bagi peretas untuk membobol jaringan dan merusak data.



Recent Posts

Start typing and press Enter to search