3 Faktor Ini Pengaruhi Minat Individu Menjadi Whistleblower

 In Artikel

Apa yang mendorong seseorang untuk membuka suara terkait adanya pelanggaran dalam sebuah institusi? Ada banyak perdebatan tentang ini dan belum ada konsensus umum apa yang memotivasi seseorang menjadi whistleblower.

Namun, setidaknya sebuah hasil studi berjudul The Psychology of Whistleblowing menyebutkan bahwa keputusan seseorang menjadi whistleblower bergantung pada pertukaran nilai keadilan dan kesetiaan (fairness-loyalty tradeoff) yang dimilikinya. Ketika seseorang lebih mendukung nilai keadilan daripada kesetiaan, maka seseorang cenderung memutuskan menjadi whistleblower dan begitu sebaliknya.

whistleblower whistleblowing


Berdasarkan fairness-loyalty tradeoff, ada tiga faktor yang memengaruhi minat individu menjadi whistleblower. Mengetahui faktor-faktor ini membantu perusahaan Anda dalam menyusun strategi kebijakan anti-fraud.


1. Faktor personal

Terkait dengan gagasan bahwa norma-norma loyalitas menghambat whistleblowing, maka penelitian menyelidiki faktor-faktor pribadi yang memengaruhi intensi menjadi whistleblower. Salah satunya, faktor locus of control – pandangan seseorang terhadap hubungan perbuatan yang dilakukan (action) dengan akibat atau hasil (outcome).

Individu yang memiliki locus of control internal lebih dominan daripada eksternal cenderung berpotensi menjadi whistleblower. Hal ini karena individu tersebut percaya bahwa segala sesuatu yang didapat oleh seseorang adalah hasil jerih payah dan usaha orang tersebut. Di sinilah nilai keadilan lebih dominan daripada kesetiaan dalam individu tersebut. Maka, ketika ia memutuskan untuk menjadi whistleblower cenderung didorong oleh rasa tanggung jawab dan keinginan mengontrol keadaan sekelilingnya.


2. Faktor situasional

Katakanlah di dalam sebuah perusahaan, keputusan karyawan untuk menjadi whistleblower dipengaruhi kuat oleh dukungan perusahaan. Apabila perusahaan menunjukkan dukungan positif – membangun kesadaran akan bahaya fraud dan pentingnya whistleblowing, menyebar pengetahuan tentang fraud, dan memberi perlindungan terhadap whistleblower, maka hal ini memberikan pengaruh positif yang kuat bagi minat individu menjadi whistleblower.


3. Faktor kultur

Individu dari umumnya kultur Asia, termasuk Jepang, Tiongkok, dan Taiwan, memandang whistleblowing sebagai sesuatu yang kurang baik atau kurang menguntungkan dibanding individu dari Amerika. Perbedaan kultur ini terkait dengan tingkat keterikatan atau ketergantungan individu dengan kelompok (degree of collectivism). Orang-orang asia cenderung memiliki degree of collectivism yang lebih tinggi dibanding orang-orang Amerika. Semakin meningkat ketergantungan individu pada kelompok, makin meningkat loyalitas mereka pada kelompok, makin negatif ekspresi individu tersebut terhadap whistleblowing dan semakin kecil minatnya menjadi whistleblower.



Recent Posts

Start typing and press Enter to search