4 Implementasi Blockchain Dalam Mencegah Kecurangan

 In Artikel

Kecurangan bisa terjadi di dalam jenis organisasi apapun dan sangat merugikan. Berdasarkan laporan ACFE: Nation on Occupational Fraud and Abuse report 2018, perusahaan pada umumnya setidaknya kehilangan 5% dari total omzet tahunan karena employee fraud (kecurangan pegawai). Berdasarkan daftar yang dirilis Risk.net, kecurangan masuk dalam daftar 10 besar risiko operasional tahun 2017.

Sayangnya, kecurangan kerap terjadi dalam jangka waktu yang lama sebelum terdeteksi. Setidaknya menurut laporan ACFE: Nation on Occupational Fraud and Abuse report 2014, median waktu antara di mulainya kecurangan hingga dideteksi mencapai 18 bulan.

Blockchain sebagai sebuah teknologi yang sedang berkembang berpotensi membantu organisasi agar lebih tahan terhadap risiko fraud. Bagaimana blockchain bisa membantu dalam pencegahan fraud? Sistem ini memiliki dua karakter unggulan yaitu:

  1. Desentralisasi: blockchain adalah digital ledger mengandung data yang dapat diakses oleh para pengguna dalam jaringan tanpa melalui administrasi pusat. Dengan begitu, blockchain menawarkan transparansi. Salah satu faktor terjadinya kecurangan adalah kurangnya transparansi.
  2. Immutable: data yang tersimpan dalam blockchain bersifat immutable (tak dapat dihapus atau diubah). Para pengguna dalam jaringan harus menyepakati terlebih dahulu validitas data yang akan disimpan dalam blockchain. Data yang sudah tersimpan di dalam blockchain tak bisa dihapus atau diubah. Setiap data baru yang tersimpan tak menghapus data lama. Dengan begitu, blockchain menawarkan sistem yang tak bisa dimanipulasi.

 

Bagaimana implementasi blockchain dalam mencegah aneka kecurangan?

  1. Mencegah kecurangan di rantai pasok

Rantai pasok adalah sistem yang sangat kompleks karena melibatkan banyak individu dan pergerakan barang/jasa sehingga sangat memungkinkan terjadinya kecurangan. Salah satu contoh kecurangan di rantai pasok adalah penyalahgunaan pupuk bersubsidi. Para pelaku biasanya menjual pupuk bersubsidi di luar wilayah tanggungjawabnya dengan harga yang lebih tinggi.

Pemerintah Indonesia bisa mengadopsi blockchain dalam distribusi pupuk bersubsidi untuk mempersempit gerak para pelaku. Informasi produk pupuk bersubsidi yang digitalisasi dalam blockchain bisa dengan mudah dideteksi asalnya dan dilacak keberadaannya karena informasinya terdistribusi secara transparan dalam jaringan dan tak bisa dihapus.

  1. Mencegah kecurangan dan pencurian identitas

Kebocoran data konsumen terburuk pada tahun 2017 lalu menyebabkan kerugian hingga 242 milyar dolar AS. Berdasarkan hasil studi global IBM Institute for Business, hanya 16% perusahaan yang mengatakan dapat mendeteksi percobaan tindak kecurangan. Data-data yang dicuri ini kemudian disalahgunakan hingga merugikan konsumen pemilik data.

Blockchain dapat mengamankan data konsumen agar tak dicuri dan disalahgunakan. Data terverifikasi yang disimpan dalam blockchain tak dapat dihapus, dimodifikasi dan hanya dapat diakses oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas.

  1. Mencegah kecurangan dalam finansial

Ada banyak faktor yang mempersulit transaksi keuangan: kebutuhan untuk agunan, waktu yang diperlukan untuk penyelesaian, perbedaan dalam denominasi mata uang, mediasi pihak ketiga dan banyak lagi. Proses multi-langkah, terutama yang membutuhkan interaksi manusia, adalah target utama para pelaku kecurangan. Dengan blockchain, informasi dapat dibagikan secara real-time, dan informasi dalam sistem dapat diperbarui jika semua pihak setuju. Sistem blockchain dapat mengurangi waktu, biaya dan peluang kecurangan.

  1. Mencegah kecurangan pemilihan suara 

Pada dasarnya blockchain bisa diimplementasikan dalam berbagai macam transmisi data, tak terkecuali dalam pemilihan suara. Infrastruktur berbasis blockchain sangat berguna dalam pemilihan suara, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang umum terjadi dalam sistem online voting.

Dengan aplikasi voting berbasis blockchain tak perlu khawatir dengan keamanan sistem internet karena para peretas dengan akses ke terminal tidak akan memengaruhi node jaringan. Para pemilih bisa secara efektif menyalurkan hak suara mereka dengan kerahasiaan yang terjamin. Para petugas pemungut suara bisa menghitung suara dengan pasti karena setiap satu identitas hanya akan berkontribusi pada satu suara, tak bisa dipalsukan, dan tak bisa dirusak.

 

 

Sumber:

https://www.investopedia.com/news/how-blockchain-technology-can-prevent-voter-fraud/

https://www.ibm.com/blogs/blockchain/2017/07/blockchain-for-fraud-prevention-industry-use-cases/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search