3 Pelajaran Dari Skandal Pencucian Uang Terbesar di Eropa

 In Artikel

Danske Bank, Bank terbesar di Denmark dicurigai menjadi tempat pencucian uang setelah otoritas di Denmark dan Estonia melakukan investigasi terhadap Danske Bank cabang Estonia (DBE) dan menemukan lebih dari 8 milyar euro atau setara 137 triliun rupiah yang dicurigai telah dicuci selama periode antara 2007 dan 2015.

Chief Executive Officer Danske Bank, Thomas Borgen, mengundurkan diri pada 19 September setelah hasil investigasi tersebut terungkap. Borgen yang menjabat sejak tahun 2013 mengaku kepada Reuters walaupun secara pribadi dirinya bersih, ia akan tetap bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada bank yang dipimpinnya.

Bagaimana mungkin bank terbesar di Denmark yang sudah beroperasi selama 147 tahun bisa menjadi tempat pencucian uang selama bertahun-tahun?

 

1. Mengabaikan peringatan

Danske Bank mengakuisisi Sampo Bank pada 2007 dan menjadikannya DBE. Sebenarnya Danske sudah banyak menerima peringatan mengenai ketidakteraturan transaksi yang terjadi di cabang Estonia terkait nasabah non-resident bahkan jauh sebelum akuisisi terjadi. Salah satunya laporan yang datang dari Russian Central Bank (RCB) pada 2007 menyebutkan ada kemungkinan aktivitas kriminal termasuk pencucian uang di DBE dengan nilai perkiraan mencapai miliaran ruble setiap bulannya.

Danske Bank mengabaikan peringatan-peringatan tersebut karena percaya bahwa risiko tersebut dimitigasi dengan prosedur Anti-Money Laundering (AML). Pihak-pihak berwenang di Estonia dan DBE meyakinkan Danske Bank bahwa prosedur AML di DBE sudah sesuai dengan kepatuhan. Namun, pada 2013 FSA Denmark menginvestigasi DBE terkait nasabah dan prosedur AML. Koresponden dari bagian legal Danske Bank menemukan bahwa banyak dari nasabah DBE masuk dalam daftar hitam RCB.

Kemudian pada tahun 2017, Danske Bank menjadi subjek penyelidikan resmi oleh pemerintah Prancis berdasarkan keluhan yang diajukan oleh Hermitage Capital Management terkait dengan kecurigaan terhadap transaksi pencucian uang yang dilakukan oleh pelanggan cabang Estonia.

2. Kegagalan sistem AML

Danske Bank menggunakan sistem pertahanan tiga lapis. Lapis pertama adalah bisnis itu sendiri yang mana harus memastikan bahwa bisnis beroperasi dengan benar, sah dan menguntungkan. Pertahanan kedua adalah fungsi manajemen risiko yaitu untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko serta fungsi kepatuhan yaitu untuk memeriksa kepatuhan terhadap aturan. Lapis terakhir yaitu departemen audit internal yang memonitor pertahanan lapis pertama dan kedua.

Sistem AML tersebut seharusnya diterapkan di semua cabang Danske Bank. Namun, DBE gagal menerapkannya. Lapis pertama, bisnis tidak fokus pada nasabah berisiko tinggi terbukti dengan ditemukannya ribuan data nasabah non-resident yang ternyata masuk daftar hitam RCB. Lapis kedua, DBE tak memasukkan rincian risiko AML dalam laporan rutin mereka kepada manajemen senior. Kegagalan lapis terakhir yaitu fungsi audit internal cabang tak seluruhnya terintegrasi dengan departemen Group Internal Audit (GIA) Danske Bank. Integrasi tak menyeluruh diduga karena biayanya yang dianggap tinggi.

3. Internal fraud

Serupa dengan korupsi, tindak pencucian uang melalui bank kemungkinan besar melibatkan pihak internal bank, terlebih jika sudah berlangsung bertahun-tahun. Setidaknya, hasil investigasi menemukan 42 staf dan agen terlibat dalam beberapa aktivitas yang mencurigakan.

 

Kesimpulan

Memiliki sistem AML saja tak cukup menjamin keamanan karena penerapan yang sesuai dengan kepatuhan sepenuhnya bergantung pada awareness dan integritas sumber daya manusia.

DBE yang merupakan cabang kecil di luar negeri mungkin hanya mewakili sebagian kecil dari opersional grup Danske Bank, tapi membawa masalah yang sangat besar karena penarapan sistem AML tak sesuai kepatuhan – abai terhadap peringatan, fungsi pelaporan dan kontrol dan tak terintegerasi secara menyeluruh.

Para analis memperkirakan denda yang dijatuhkan oleh DSA Denmark terhadap Danske Bank dapat mencapai 800 juta dolar AS atau setara dengan sekitar 11 triliun rupiah. Pihak berwenang Amerika Serikat wacananya juga akan menyelidiki Danske Bank. Skandal ini tak hanya merugikan Danske Bank secara financial, tapi juga reputasi. Akibatnya, kini Danske Bank setidaknya sudah kehilangan 30% dari nilai pasar.

 

 

Sumber:

https://thinkprogress.org/new-findings-expose-the-depths-of-one-of-europes-largest-money-laundering-scandals-9fe4fb50e59b/

https://kyc360.com/article/money-laundering-at-danske-bank-lessons-for-financial-crime-professionals-part-1/

https://www.natlawreview.com/article/danske-bank-ceo-resigns-heels-report-detailing-astounding-234-billion-suspicious

Foto oleh Stanislav Stankovic

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search