4 Modus Umum Pencucian Uang

 In Artikel

Para pelaku fraud (kecurangan) tentu tak ingin uang hasil perbuatan mereka terlacak oleh aparat berwenang, karena itulah mereka melakukan praktik pencucian uang. Praktik kejahatan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 2000 tahun yang lalu. Fundamental pencucian uang tetap sama, hanya metodenya yang berbeda seiring perubahan zaman. Berikut empat modus praktik pencucian uang yang biasanya dilakukan para pelaku kecurangan.

 

1. Menaruh uang di perusahaan legal

Mencampur dana ilegal dengan pendapatan sah dari perusahaan yang sah adalah salah satu modus pencucian uang. Para pelaku pencucian uang juga bisa mendirikan perusahaan secara legal dengan operasi bisnis  sebagai modus (shell company). Pada dasarnya, uang yang sudah melalui jalur transaksi yang panjang dan bercampur dengan pendapatan sah perusahaan akan sulit terlacak sumbernya. Shell company yang didirikan tanpa aset atau operasi yang jelas biasanya merupakan sarana pencucian uang. Oleh karena itu, kini pemerintah sudah mengeluarakan Perpres no.13 tahun 2018 yang mengatur transparansi pemilik manfaat perusahaan. Setiap perusahaan kini diwajibkan melaporkan para pemilik manfaatnya. Dengan upaya transparansi tersebut diharapkan bisa meminimalkan tindakan pencucian uang.

 

2. Pengalihan dana ke wilayah tax haven

Wilayah atau negara tax haven adalah negara-negara yang menerapkan aturan pajak yang longgar atau sama sekali tak menerik pajak, kerahasiaan informasi yang ketat pada bank dan prosedur pendirian perusahaan yang mudah. Negara-negara penganut tax haven antara lain Cayman Islands, British Virgin Islands, dan Panama. Negara-negara tersebut sengaja ‘menjual’ jasa tersebut untuk menarik para wajib pajak dari negara lain untuk mengalihkan uang mereka ke negara-negara tersebut. Para pelaku pencucian uang biasanya menyimpan uang di institusi keuangan atau menanamkannya pada perusahaan yang berada di wilayah tersebut.

 

3. Jual beli aset properti

Cara lain yang populer digunakan oleh para pelaku pencucian uang yaitu membeli aset properti. Contohnya, seorang koruptor mentransfer uang hasil korupsi ke rekening teman, asisten rumah tangga, atau sepupunya untuk ‘dititipkan’. Dari rekening tersebut, uang dibelanjakan properti. Cara lainnya, koruptor membeli aset properti dari broker dengan harga di atas harga yang ditawarkan. Ia membayar harga yang ditawarkan dengan uang halal, dan kelebihan harga dibayar dengan uang kotor. Tetapi kedua pihak sepakat untuk mengecilkan nilai transaksi di atas kertas. Sebulan kemudian, properti dijual kembali kepada orang lain seharga dengan harga beli. Selisih antara nilai transaksi di atas kertas dengan harga jual, itulah uang yang sudah ‘dicuci’.

 

4. Transaksi online

Transaksi online merupakan alternatif ‘mesin’ pencuci uang yang menarik bagi para pelaku karena jangkauan global, cepat, mudah, dan murah biaya. Di sudut belahan dunia manapun, selama ada akses internet, para pelaku bisa memanfaatkan transaksi online. Pada dasarnya pencucian uang melalui transaksi online adalah memanfaatkan prosesor pembayaran yang legal untuk mengaburkan asal usul uang. Para pelaku bisa memanfaatkan e-commerce, crowdfunding, kriptokurensi, bahkan online game. Contohnya, pelaku bisa membuat akun fiktif lengkap dengan display produk yang diperdagangkan di salah satu e-commerce. Lalu, ia mentransfer sejumlah uang ke akun fiktif seolah-olah untuk membeli produk-produknya. Uang tersebut kemudian dicairkan dan bank mencatat sebagai pembayaran yang sah dari e-commerce.

 

 

Sumber:

https://www.pymnts.com/news/security-and-risk/2018/trulioo-ecommerce-onboarding-fake-merchants-money-laundering/

https://loanstreet.com.my/learning-centre/money-laundering

http://www.simulasikredit.com/contoh-contoh-kasus-money-laundering-atau-pencucian-uang/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search