Berinvestasi Mata Uang Digital? Kenali 4 Risiko Kecurangan Ini

 In Artikel

Seiring dengan makin populernya mata uang digital (cryptocurrency) dan Initial Coin Offering (ICO), semakin banyak perusahaan yang menawarkan investasi menarik. Meskipun investor kawakan seperti Warren Buffet telah memberikan peringatan risiko ‘bubble’ mata uang digital dan Bank Indonesia (BI) sudah memberikan peringatan pada Maret tahun ini bahwa investasi mata uang digital sangat berisiko, namun peringatan tersebut tak menyurutkan minat para investor, yang umumnya adalah milenial. Meningkatnya minat, setidaknya dibuktikan dengan semakin banyaknya varian mata uang digital. Kini ada sekitar 1300 jenis mata uang digital yang beredar. Sebelum Anda berinvestasi pada mata uang digital, kenali dulu risiko kecurangan-kecurangan berikut ini:

 

  1. Penipuan ICO

Bentuk penipuan yang amat mengkhawatirkan yaitu kecurangan berkedok intial coin offering(ICO) – initial public offering (IPO) seperti pada pasar saham konvensional.

Kini banyak pengembang koin yang menggalang dana untuk proyek koin mereka dengan menawarkan koin pertama sebelum diluncurkan ke publik. Para pelaku kecurangan bisa saja menawarkan ICO palsu, lalu menggelapkan dana investor. Bisa pula pelaku menggunakan nama ICO yang sah untuk menipu para investor.

Chainalysis memperkirakan kecurangan ICO sudah memakan korban hingga 30,000 investor dengan nilai kerugian mencapai 225 juta USD selama tahun 2017. Calon investor sebaiknya melakukan riset secara menyeluruh terhadap sebuah ICO sebelum memutuskan berinvestasi.

  1. Penipuan trading

Bentuk penipuan kedua yang paling umum adalah dalam hal perdagangan mata uang digital. Di Australia jenis penipuan investasi ini adalah kedua yang paling sering terjadi hingga The Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) harus mengeluarkan peringatan agar para investor tak mudah tergoda dengan iming-iming investasi mata uang digital yang tak masuk akal oleh sebuah perusahaan atau platform. Pelaku biasanya mengklaim investasi ‘bebas risiko’, ‘low risk, high return’, dan ‘cara cepat kaya’. Bisa saja perdagangan awalnya berjalan baik, namun tak lama uang investor dibawa kabur lantaran mata uang yang diperdagangkan tak mampu tetap relevan di pasar dan tak bisa berinovasi. Kalau sudah terlanjur berinvestasi dan terjadi penipuan, jangan harap uang bisa kembali.

  1. Pump-and-Dump

Modus ini sudah ada jauh sebelum era cryptocurrency. Kini, di pasar crypto, modus ini dilakukan secara terbuka di media sosial, contohnya Telegram, BitcoinTalk dan Reddit. Pada dasarnya, sekelompok pelaku penipuan membeli altcoin (mata uang digital alternatif atau selain bitcoin) pada harga tertentu dan menggunakan pernyataan menyesatkan, upaya-upaya penipuan marketing untuk membuat koin dengan kapitalisasi pasar yang rendah (umumnya altcoin) seolah amat berharga hingga sayang jika para investor melewatkannya. Setelah harga altcoin berada dipuncak, para pelaku secara bersamaan menjual altcoin mereka.

  1. Impersonator

Pelaku membuat akun-akun palsu di Twitter, Facebook dan media sosial lain yang meniru public figure. Mereka juga memposting promosi investasi dengan mencatut nama dan foto public figure atau individu berpengaruh.

Pada dasarnya kecurangan di industri manapun bukanlah sesuatu yang baru. Di industri crypto yang terdesentralisasi, peluang penipuan makin besar karena operasionalnya tak diawasi oleh institusi berwenang seperti mata uang fiat. Meluangkan waktu untuk mempelajari bidang di mana kita ingin berinvestasi dan melakukan investigasi secara menyeluruh menjadi satu-satunya cara untuk menghindari peluang penipuan.

 

 

Sumber:

https://www.thestreet.com/story/14526284/1/cryptocurrency-investors-need-to-beware-of-these-scams-and-risky-assets.html

https://www.ccn.com/cryptocurrency-fraud-now-second-most-common-investment-scam-in-australia/

https://coinsutra.com/cryptocurrency-scams/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search