5 Jenis Kecurangan yang Perlu Diwaspadai E-commerce

 In Artikel

Dengan populasi mencapai 265 juta jiwa, Indonesia merupakan potensi pasar yang menarik bagi industri e-commerce. Namun, seperti industri lainnya, e-commerce pun tak luput dari risiko kecurangan. Meskipun e-commerce mengaplikasikan teknologi maju, tapi para pelaku selalu mencari peluang untuk melakukan kecurangan demi mendapatkan keuntungan.

Kecurangan yang terjadi merugikan konsumen, platform e-commerce itu sendiri dan penjual baik dari segi nominal maupun kepercayaan. Padahal dalam setiap hubungan bisnis, kepercayaan menjadi kunci utama, terutama dalam bisnis e-commerce di mana tak ada tatap muka dalam proses jual beli.

Berikut ini lima jenis kecurangan yang perlu diwaspadai dan dicegah oleh e-commerce di Indonesia.

  1. Kecurangan penjual

Selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para penjual nakal untuk mengeruk untung dengan merugikan pihak lain, contohnya memberikan diskon abal-abal. Oknum penjual menaikkan harga barang secara tidak wajar dan memberikan potongan harga yang tak wajar hingga terkesan potongan harga besar. Contoh lainnya, penjual sudah menerima uang konsumen tapi barang tak dikirim. E-commerce perlu menyeleksi secara ketat para penjualnya dan memonitor akun-akun penjual dalam rangka pencegahan kecurangan semacam ini.

  1. Kecurangan pegawai

Kecurangan yang dilakukan pegawai merupakan endemik global. Dunia e-commerce di Indonesia pun baru-baru ini dikejutkan dengan insiden kecurangan karyawan di salah satu e-commerce raksasa pada saat momen flash sale. Sejumlah oknum karyawan membuat pengguna tak bisa mendapatkan barang sale dengan adil sehingga para oknum tersebut bisa mendapatkan barang-barang tersebut yang akhirnya merugikan pengguna dan e-commerce itu sendiri.

Pencurian aset atau barang oleh karyawan bukan satu-satunya risiko. Pengalihan uang konsumen ke rekening oknum juga bisa saja terjadi. Kecurangan berasal dari faktor internal sebenarnya bisa minimalkan dengan memperketat proses rekrutmen karyawan.

  1. Ulasan palsu

Jangan remehkan kekuatan sebuah testimoni atau ulasan jasa atau produk. Berbelanja online tak seperti berbelanja model konvensional di mana konsumen bisa bertatap muka langsung dengan penjual dan melihat langsung produk yang ditawarkan. Ulasan konsumen lain menjadi andalan seorang konsumen dalam menilai sebuah produk atau jasa yang dijual secara online sebelum memutuskan pembelian. Sayangnya, tak semua ulasan asli.

Bing Liu, seorang profesor ilmu komputer dari Universtias Illinois Chicago, AS mengungkapkan sekitar 30% ulasan untuk produk-produk tertentu adalah palsu. Adapun hasil dari ivestigasi tim peneliti Cornell menemukan ada 10% ulasan produk yang dianggap palsu. E-commerce di Indonesia mungkin perlu belajar dari upaya pencegahan ulasan palsu yang dilakukan Amazon yaitu dengan memverifikasi pengulas. Amazon menyediakan kolom ulasan bagi konsumen yang sudah membeli produk di platform tersebut dan mengharuskan mereka menyertakan foto produk yang dibeli apabila memberikan ulasan.

  1. Kecurangan delivery

Bukan sekali dua kali kita mendengar berita konsumen yang kesal lantaran barang yang dipesan tak kunjung datang padahal uang pembelian sudah ditransfer kepada penjual. Setelah diselidiki, ternyata barang dibawa kabur oleh kurir pihak ketiga. E-commerce bisa menjalin kerjasama lebih erat dengan kurir pihak ketiga untuk mencegah kecurangan ini. Dalam kasus semacam ini pihak kurir biasanya memberikan ganti rugi pada konsumen.

  1. Kecurangan transaksi

Menurut laporan Forter pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat tertinggi terjadinya kecurangan transaksi e-Commerce (35%) dibanding Venezuela (33%), Afrika Selatan (25%), Brazil (11%) dan Romania (10%). Para pelaku melakukan berbagai cara untuk curang, salah satunya pencurian identitas.

Bentuk pencurian identitas konsumen kerap dilakukan dengan modus yang disebut ‘triangle fraud’. Modus pelaku biasanya membuat akun fiktif di e-commerce tertentu, lalu menarik calon pelanggan dengan berbagai promo dan mendorong mereka melakukan transaksi, dan mencuri data pribadi pelanggan – biasanya informasi kartu kredit. Sebagai upaya pencegahan platform bisa mendapatkan sertifikat SLL dan menerapkan metode otentifikasi dua faktor dalam transaksi.

 

 

Sumber:

https://eprints.usq.edu.au/23432/1/Rofiq_2012_whole.pdf

http://www.new.accertify.com/en/campaign-pages/top-ecommerce-fraud-scams/

https://tirto.id/hati-hati-dengan-ulasan-palsu-di-e-commerce-b8pZ

https://www.digitalcommerce360.com/2015/05/20/global-e-commerce-fraud-report-ranks-indonesia-riskiest/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search