Mempekerjakan Tenaga Freelance? Simak 4 Tips Mengelola Risikonya

 In Artikel

Dunia kerja mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan meningkatnya tenaga kerja freelancer karena perkembangan teknologi internet yang memberikan fleksibilitas dalam hal tempat dan waktu. Berdasarkan data Jora Indonesia, sebuah situs info lowongan kerja yang menampilkan lowongan dari halaman karier perusahaan, mayoritas pencari kerja di Indonesia saat ini berasal dari kategori usia 18-24 tahun (58,02%) di mana pekerjaan freelance masuk ke dalam lima besar pekerjaan paling dicari di Indonesia. Maraknya pekerja freelancerinilah yang disebut dengan istilah ‘Gig Economy’.

Menurut Sribu Corner, mereka yang memilih bekerja sebagai freelancer 47% karena alasan waktu yang fleksibel. Mereka bisa mengatur waktu dan tempat bekerja dengan lebih leluasa. Forbes melansir bahwa pada tahun 2030, generasi millennials tidak lagi betah bekerja dengan model 9 to 5 seperti saat ini.

Bagi perusahaan keberadaan freelancer memungkinkan mereka mendapatkan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos yang sifatnya dibutuhkan namun jangka waktu pendek sembari menghemat biaya. Katakanlah, saat perusahaan membutuhkan tenaga tambahan untuk mengisi konten tambahan di website, tenaga web designer, tenaga tambahan dalam event-event tertentu. Namun, ada beberapa risiko-risiko yang perlu dipahami oleh perusahaan jika bekerja dengan freelancer, di antaranya yaitu risiko kerahasiaan data perusahaan dan masalah komunikasi.

Risiko-risiko ini timbul karena perusahaan tentunya tak bisa mengontrol waktu dan tempat kerja tenaga freelance. Tentu ada data-data sensitif perusahaan yang hanya boleh diakses oleh pihak-pihak tertentu di perusahaan, dimana tak semua karyawan boleh mengaksesnya terlebih lagi freelancer. Selain kerahasiaan data, risiko lainnya adalah masalah komunikasi, bisa saja freelancer sulit dihubungi atau mangkir dari tanggung jawab.

Apa yang bisa dilakukan perusahaan dalam mengelola risiko mempekerjakan freelancer? Ini empat tipsnya

  1. Lakukan background checking saat merekrut. Sama seperti terhadap karyawan tetap, perusahaan perlu melakukan background check terhadap pekerja freelance yang risikonya lebih besar lagi.
  2. Pastikan kontrak freelancesecara khusus menyatakan bahwa semua produk atau hasil kerja adalah milik perusahaan dan pekerja freelance tidak dapat menggunakannya dengan cara apapun. Sangat disarankan agar perusahaan meminta tenaga freelance untuk menandatangani kontrak non-disclosure.
  3. Jika perusahaan memfasilitasi freelancerdengan perangkat laptop pastikan dilengkapi dengan sistem keamanan yang kuat, contohnya enkripsi perangkat lengkap, proteksi perangkat lunak, VPN, firewall, filter konten,sistem patching dan monitoring serta autentikasi dan otorisasi yang kuat.
  4. Ketika tenaga freelancetelah menyelesaikan kewajibannya, hapus semua password yang memungkinkannya mengakses sistem.

 

 

Sumber:

https://www.telegraph.co.uk/business/open-economy/are-freelance-workers-a-security-risk/

i-Sight

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search