Implementasi Pembelajaran Mesin Dalam Deteksi Fraud e-Commerce

 In Artikel

Kasus fraud online berupa penipuan dan kecurangan e-Commerce kian marak seiring canggihnya perkembangan teknologi dan cepatnya para pelaku beradaptasi dengan berbagai jurus keamanan siber. Hasil studi oleh Forter menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara paling berisiko terkait e-Commerce.

e-Commerce besar seperti Lazada juga pernah mengalami kasus fraud. Kasus tersebut terjadi pada event Harbolnas Desember tahun 2017 di mana oknum penjual memasang diskon besar-besaran untuk memancing pelanggan. Diskon tersebut palsu dan setelah uang pembayaran ditransfer, namun barang tak kunjung datang.

 

Melawan fraud e-Commerce

Modus penipuan “triangle fraud” adalah yang paling sering dialami pelanggan dan platform e-Commerce di Indonesia. Modus pelaku biasanya membuat akun fiktif di e-Commerce tertentu, lalu menarik calon pelanggan dengan berbagai promo dan mendorong mereka melakukan transaksi, dan mencuri data pribadi pelanggan – biasanya informasi kartu kredit. Pelakunya kerap sulit dilacak dan tertangkap meskipun mencantumkan alamat. Penipuan semacam ini merugikan pelanggan dan platform.

Melawan fraud bukan berarti menghilangkan fraud sama sekali, namun sigap dalam mendeteksi dan memperketat kontrol. Semakin cepat kecurangan terdeteksi, semakin minim kerugian yang diderita. Sebagai pelanggan kita perlu berhati-hati dalam berbelanja, jangan mudah tergoda dengan penawaran-penawaran yang terlalu indah.

 

Peran teknologi dalam deteksi fraud

Sebagai platform, e-Commerce perlu memperbarui dan mengadopsi sistem keamanan yang tak hanya mempersempit peluang fraud tapi juga tak menimbulkan friksi yang signifikan terhadap kenyamanan pelanggan dalam berbelanja. Berbeda platform, berbeda perilaku pasar, berbeda pula sistem keamanan diperlukan.

Contohnya, sistem keamanan 3D verification bagi pasar e-Commerce seperti di UK dan Russia memiliki dampak positif terhadap konversi belanja. Meskipun prosedurnya memakan beberapa tahap, tapi pelanggan cenderung merasa aman dan menyelesaikan transaksi. Tapi bagi e-commerce yang ingin melebarkan sayap ke negara-negara seperti Jepang dan Amerika Latin di mana konsumennya banyak menggunakan perangkat mobile dan ingin kepraktisan, 3D verification bisa menjadi titik friksi. Konsumen cenderung meninggalkan keranjang belanja karena 3D verification dirasa tak praktis. Meskipun di UK dan Rusia m-Commerce juga sudah bertumbuh, namun perilaku konsumen di kedua negara memungkinkan penggunaan 3D verification.

Deteksi kecurangan dengan minim friksi mungkin bisa diwujudkan dengan teknologi pembelajaran mesin (machine learning). Teknologi ini memungkinkan merchants dan penerbit kartu melihat perubahan perilaku pada setiap konsumen dan mengidentifikasi transasksi yang berisiko, tanpa konsumen perlu masukkan kode verifikasi dan semacamnya seperti 3D verification. Pada intinya, teknologi mau tak mau menjadi bagian yang tak bisa diabaikan dalam melawan fraud. Maka, penting bagi fraud examiner untuk up-to-date dengan teknologi terkini.

 

 

Source: http://www.borderlessnewsonline.com/indonesias-e-commerce-firms-rife-with-security-problems-heres-some-ways-to-fix-it/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search