Pencegahan Fraud: Anti-fraud control Pangkas Kerugian Hingga 50%

 In Artikel

Berdasarkan laporan 2018 Report to the Nations: Global Study on Occupational Fraud and Abuse, beberapa industri yang paling sering terkena dampak dari occupational fraud di antaranya yaitu layanan perbankan dan keuangan, manufaktur, sektor publik, kesehatan, ritel, asuransi dan konstruksi. Penyalahgunaan aset adalah bentuk fraud yang paling umum terjadi dengan kisaran 89% dari total perusahaan yang disurvei dengan median loss sekitar 114.000 dolar AS.

Ada tiga elemen yang selalu menjadi alasan terjadinya fraud yang disebut ‘triangle fraud’, yaitu: motivasi, peluang, dan rasionalisasi. Elemen yang terakhir, adalah yang paling sulit diminimalkan karena sifatnya personal. Intinya, pencegahan fraud utamanya adalah dengan mengendalikan peluang caranya dengan menerapkan anti-fraud control.

 

Anti-fraud control pangkas kerugian hingga 50%

Dalam laporan disebutkan ada 18 anti-fraud control yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang menjadi korban fraud, yang masing-masing keberadaannya mampu meminimalkan kerugian perusahaan. Di antara kedelapan belas anti-fraud control yang digunakan, tiga di antaranya yang paling umum yaitu code of conduct, external audit of financial statement dan internal audit department.

Dari hasil survei yang dilakukan, ditemukan adanya korelasi postitif antara anti-fraud control dan kerugian yang diderita perusahaan. Perusahaan yang memiliki anti-fraud control mengalami kerugian lebih kecil dibanding perusahaan yang tak memilikinya. Contohnya, penggunaan proactive data monitoring dan analisis serta surprise audit terkait dengan minimnya kerugian karena fraud hingga 50%.

 

Bergerak tandem

Namun, keberadaan anti-fraud control tak bisa serta merta mencegah fraud tanpa tandem anti-fraud awareness. Perusahaan dengan anti-fraud controltapi tanpa awareness bisa dianalogikan seperti sebuah komputer yang dilengkapi oleh firewall yang tak aktif karena tak diaktifkan oleh pemiliknya. Fungsi alat pencegahan bisa jadi tak berfungsi efektif atau malah tak berguna.

Anti-fraud awareness dimanifestasikan dalam bentuk kontrol internal. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa meskipun perusahaan sudah memiliki anti-fraud control, namun 30% dari kasus fraud yang terjadi karena kurangnya kontrol internal. Ada banyak cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk meningkatkan anti-fraud awareness di antaranya dengan mengadakan pelatihan berkala, memberikan insentif bagi stakeholder yang melaporkan adanya penyimpangan, dan menegaskan konsekuensi dari tindakan fraud terhadap seluruh stakeholder perusahaan.

Pada akhirnya fraud memang tidak bisa dihilangkan sama sekali karena sifat alaminya, namun perusahaan bisa mengendalikan terjadinya fraud seminimal mungkin.

 

 

Sumber:

https://www.researchgate.net/publication/317550234_The_effect_of_internal_control_and_anti-fraud_awareness_on_fraud_prevention_A_survey_on_inter-governmental_organizations [accessed Jul 16 2018].

https://s3-us-west-2.amazonaws.com/acfepublic/2018-report-to-the-nations.pdf

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search