Fraud Rugikan Miliaran Rupiah, Ini Cara Go-Jek dan Grab Melawannya

 In Artikel

Fraud memang tak kenal diskriminasi. Grab dan Go-Jek, dua platform raksasa di industri ride-sharing ini turut merasakan kerugian akibat fraud. Ketatnya persaingan di antara para pengemudi membuat pengemudi-pengemudi nakal melakukan berbagai kecurangan untuk meraup untung. Mulai dari order fiktif – yang biasa disebut “opik” di kalangan pengemudi – hingga kecurangan dalam pembayaran cash, jenis-jenis fraud tersebut mengakibatkan kerugian bisnis hingga miliaran rupiah.

Grab dan Go-Jek memberlakukan pemberian insentif bagi para pengemudi yang memenuhi kriteria performa yang baik. Hal ini dimanfaatkan oleh para pengemudi nakal dengan membuat order fiktif. Bentuk kecurangan ini pada dasarnya membuat seolah-olah pengemudi melayani penumpang, padahal sebenarnya tidak. Dengan menggunakan fake GPS, para pengemudi ini mengelabui sistem aplikasi. Dari kecurangan ini pengemudi nakal bisa mendapatkan insentif lebih.

 

Aneka modus fraud

Order fiktif tak hanya merugikan platform, tetapi juga pengemudi lain. Sistem order Grab dan Go-Jek memungkinkan pengemudi mendapatkan order dari target terdekat. Fake GPS memungkinkan pengemudi yang lokasinya jauh dari target mendapatkan order sehingga pengemudi lainnya yang berada di dekat target tak kebagian. Kerugiannya juga diderita penumpang karena harus menunggu lebih lama lantaran jarak pengemudi yang jauh.

Fraud tak hanya dialami oleh industri ride-sharing lokal, tapi juga seluruh Asia dengan berbagai modus. Pengemudi nakal di India memanfaatkan modus fraud yang mereka sebut surge-pricing dengan cara offline serentak di titik-titik angkut popular. Saat tarif meningkat karena kurangnya armada, para pengemudi kembali online.

Di Malaysia, para pengemudi nakal kerap menawarkan pembayaran cash pada penumpang. Modusnya, penumpang diminta membatalkan pesanan dengan opsi ‘I found another travel option’ saat penumpang sudah berada di dalam kendaraan. Pengemudi mengantarkan penumpang hingga ke tempat tujuan dan penumpang membayar tarif secara cash sesuai yang tadinya tertera pada aplikasi. Dengan cara ini pengemudi bisa mendapatkan uang tanpa dipotong oleh aplikasi.

 

Go-Jek dan Grab lawan fraud

Grab dan Go-Jek semakin memperketat upaya-upaya pencegahan, deteksi dan penanganan fraud. Grab melalui kampanye anti-fraud “Grab Lawan Opik!” berinvestasi dalam teknologi anti-fraud dan berhasil menurunkan tingkat fraud hingga 80%. Untuk upaya pencegahan, pihak Grab membuat kode etik yang harus dipatuhi oleh para pengemudinya. Grab tak segan untuk menjatuhkan sanksi jika memang pengemudi terbukti melakukan fraud setelah dilakukan investigasi oleh tim anti-fraud mereka.

Adapun Go-Jek memanfaatkan artificial intelligence dalam mendeteksi fraud. JARVIS, mesin berbasis data analisis yang dibangun oleh tim engineering berfungsi membantu analis manusia dalam mendeteksi fraud. Pada April lalu Go-Jek juga meluncurkan sebuah alat deteksi yang akan memberikan peringatan pada pengemudi melalui pop-up notification apabila mereka terdeteksi menggunakan aplikasi fake GPS.

Upaya-upaya yang dilakukan kedua platform bertujuan demi keamanan dan kenyamanan para penumpang dan keadilan bagi para pengemudinya.

 

 

Sumber:

https://m.scmp.com/week-asia/business/article/2154770/who-pays-when-indonesian-ride-sharing-fraud-goes-full-throttle?amp=1

https://vulcanpost.com/593391/malaysia-grab-driver-scam-expose/

https://www.techinasia.com/talk/day-life-vp-fraud-gojek

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search