Deteksi Fraud: 50% Kasus Korupsi Terdeteksi Melalui Aduan

 In Artikel

Apapun ukuran sebuah perusahaan tak ada yang lolos dari risiko occupational fraud. ACFE mengartikan Occupational Fraud sebagai penyalahgunaan wewenang dan jabatan demi pengayaan/keuntungan individu atau kelompok dengan sengajamenyelewengkan penggunaan aset dan kekayaan perusahaan.

Ada tiga kategori occupational fraud menurut ACFE yaitu penyalahgunaan aset, korupsi, dan kecurangan laporan keuangan. Penyalahgunaan aset adalah kategori yang kerap terjadi, namun kerugian yang dibawanya terbilang kecil dibanding dua kategori lainnya. Adapun kecurangan laporan keuangan justru menyebabkan kerugian paling besar meskipun tidak sering ditemukan. Contoh kasus kecurangan laporan keuangan yang paling menyedot perhatian yaitu Enron yang menyebabkan kerugian total hingga USD 31,2 milyar tahun 2001.

Di Indonesia, korupsi adalah kategori occupational fraud yang sering terjadi dan dinyatakan fraud yang paling merusak. Berdasarkan survei the Association of Fraud Examiners (ACFE) Indonesia Chapter and White Collar Crime Research and Prevention Center (Pusat Penelitian dan Pencegahan Kejahatan Kerah Putih / P3K2P) tahun 2016, korupsi terjadi 67% dari total kasus occupational fraud di Indonesia dengan kerugian mencapai 10 milyar rupiah per tahun, diikuti oleh penyalahgunaan aset (31%) dan penyalahgunaan laporan keuangan (2%).

 

Bagaimana occupational fraud sering terungkap

Menurut laporan Nation on Occupational Fraud and Abuse tahun 2018 metode deteksi yang paling sering mengungkap occupational fraud yaitu aduan, internal audit, dan ulasan manajemen. Aduan merupakan alat deteksi fraud yang paling umum mengungkap fraud dengan persentase 40% dari total kasus dan 50% kasus korupsi terdeteksi melalui aduan.

Melihat fakta tersebut, perusahaan perlu mengetahui dari mana aduan paling banyak berasal. Masih berdasarkan laporan yang sama, hampir separuh lebih aduan ditemukan berasal dari karyawan. Adapun sepertiganya berasal dari sumber di luar perusahaan – pelanggan, vendor, dan kompetitor.

 

Whistleblowing hotline pangkas hingga 50% kerugian

Penting bagi perusahaan untuk menyediakan kanal aduan dan mensosialisasikan pentingnya kesadaran anti-fraud pada karyawan dan pihak terkait di luar perusahaan. Dari laporan tersebut diketahui bahwa perusahaan yang memiliki kanal aduan (whistleblowing hotline) berisiko mengalami kerugian 50% lebih kecil daripada perusahaan yang tak memilikinya dan korupsi adalah jenis fraud yang paling umum dideteksi melalui aduan. Terbukti bahwa whistleblowing hotline merupakan alat yang efektif dalam pencegahan fraud, terutama korupsi.

Hal yang perlu diperhatikan perusahaan dalam menyediakan hotlineini adalah kerahasiaan pengadu karena mereka cenderung punya ketakutan akan ketahuan pihak tertentu dan ditekan. Dari laporan tersebut telepon (42%) merupakan mekanisme aduan yang paling sering digunakan, diikuti oleh email (26%), dan web-based onlineform (23%). Kini sudah banyak pihak ketiga yang menyediakan jasa whistleblowing hotline yang berkomitmen memberikan rasa aman bagi pengadu, menjaga kerahasiaan laporan dan bekerja sesuai dengan etika lingkungan kerja klien.

 

 

Source:

https://s3-us-west-2.amazonaws.com/acfepublic/2018-report-to-the-nations.pdf

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search