Ini Cara Uber Manfaatkan Background Check Untuk Mengurangi Tindak Kriminal

 In Artikel

Ridesharing sudah menjadi bagian gaya hidup bagi penduduk di kota-kota besar di seluruh dunia. Seperti halnya ‘Google’ yang sudah dipakai sebagai sebuah kata kerja ‘googling’, begitu juga dengan ‘Gojek’ yang akrab kita gunakan sebagai ‘gojekin’. Ridesharing memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk melakukan perjalanan dengan layanan berbasis aplikasi dan transaksi tanpa tunai, sebut saja GoPay yang dimiliki oleh Gojek dan GrabPay yang dimiliki oleh Grab.

Gagasan ridesharing ini memberikan kebebasan pada pengguna layanan – baik penumpang maupun pengemudi – untuk menggunakan satu aplikasi dan akun secara universal. Tak seperti transportasi umum konvensional, dalam ridesharing perusahaan tidak bisa mengontrol sepenuhnya para pengguna dan kendaraan. Maka dari itu, munculah pertanyaan terkait keamanan penumpang terutama di negara-negara yang belum memiliki UU khusus terkait ridesharing.

Di Amerika Serikat sudah banyak kasus dilaporkan tentang terjadinya kekerasan terhadap penumpang, penyerangan, dan penjambretan di dalam kendaraan ridesharing. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 di mana seorang pengemudi Uber bernama Talal Chamout harus mendekam di dalam penjara selama 25 tahun karena menguntit dan menyerang penumpangnya secara seksual.

Sebenarnya Uber Amerika Serikat sudah menjalankan background check selama bertahun-tahun. Hanya saja Uber tak punya kebijakan yang seragam terkait screening. Penyelidikan yang dilakukan CNN pada April lalu terkait proses screening dalam industri ridesharing menemukan bahwa ada lebih dari 100 pengemudi Uber yang dituduh melakukan penyerangan seksual dan kekerasan terhadap penumpang dalam empat tahun terakhir.

Dari kasus tersebut, Uber mulai memberlakukan kebijakan yang lebih ketat dan seragam dalam proses rekrutmen mitra pengemudinya. Awal tahun ini, Uber akan melakukan background check setiap setahun sekali dan berinvestasi dalam teknologi untuk mengidentifikasi pelanggaran kriminal baru. Dalam pernyataan pada CNN, Uber mengakui kesalahan masa lalunya tersebut dan mengklaim sudah lebih dari 200,000 pendaftar yang gagal dalam proses background check pada tahun 2017.

Secara umum, background check sangat penting dalam rekrutmen untuk meminimalkan potensi fraud dan tindak kriminal. Sebaiknya proses ini memang tak hanya dilakukan saat rekrutmen, tapi juga dilakukan terhadap karyawan atau mitra yang sudah bekerja atau menjalin kerja sama.

 

 

https://edition.cnn.com/2018/06/01/us/felons-driving-for-uber-invs/index.html

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search