Hadang Arus Produk Palsu Secara Online, Amazon dan IACC Berkolaborasi

 In Artikel

Banjirnya produk-produk palsu di pasar e-Commerce menghambat pertumbuhan bisnis dan merugikan konsumen. Oleh karena itu pada hari World Intellectual Property (IP) yang jatuh pada tanggal 26 April, raksasa e-Commerce asal Amerika Serikat, Amazon, sepakat berkolaborasi dengan International AntiCounterfeiting Coalition (IACC).

Kesepakatan kolaborasi ini ditandatangani oleh presiden IACC, Bob Barchiesi, dan vice president of customer and brand protection Amazon, Dharmesh Mehta. Dengan kesepakatan ini, IACC akan bekerjasama dengan Amazon dalam menilai klaim potensi pelanggaran, pelaporan, dan penegakan dalam melawan pemalsuan. Kolaborasi ini bertujuan untuk menggbungkan informasi, resources, dan expertise dari dua organisasi untuk menjaga konsumen dan pemegang hak paten.

Dikutip dari siaran pers yang dirilis pada website IACC, Dharmesh Mehta mengatakan, “Di Amazon, kami bekerja sangat keras setiap hari untuk mendapatkan dan menjaga kepercayaan konsumen dan termasuk memastikan mereka membeli dan menerima produk asli.”

“Kami sudah membuat kemajuan dalam melindungi konsumen dan merek, terutama melalui upaya proaktif dan kolaborasi dengan pemegang paten di Brand Registry. Tapi, akan selalu ada hal yang perlu dilakukan lagi dan upaya dengan IACC akan membantu kami belajar dan memperbaiki sistem kami,” lanjutnya.

Brand Registry merupakan program Amazon yang dirancang untuk memberikan kontrol produk di Amazon bagi para pemilik merek. Lebih dari 40 ribu merek di dunia terdaftar dalam Brand Registry dan Amazon menginvestigasi dan melakukan tindakan terhadap lebih dari 95% laporan potensi pelanggaran yang diterima Brand Registry dalam waktu 8 jam.

Sebelum Amazon, raksasa e-Commerce Tiongkok, Alibaba telah melakukan langkah yang sama untuk melindungi pemilik merek dan konsumen dengan membentuk Alibaba Group Anti-Counterfeiting Alliance (AACA) dengan lebih dari 20 merek internasional tergabung di dalamnya.

Internet membawa isu pemalsuan produk ketingkat yang lebih tinggi karena tak ada lagi hambatan jarak dan waktu. Penyebaran produk palsu lebih luas, lebih cepat dan lebih mudah. Jika sebelum era internet sebuah brand mungkin bisa mengatasi sendiri produk palsu yang beredar di ritel-ritel, tapi kini mau tak mau mereka harus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di rantai pasokan, termasuk platform e-Commerce.

Di Indonesia sendiri belum ada e-Commerce yang mengambil langkah serupa dengan Amazon dan Alibaba. Tapi, diharapkan ke depannya kesadaran untuk berkolaborasi dalam melawan pemalsuan akan segera terwujud di Indonesia, terlebih Indonesia menjadi target pertumbuhan terbesar pasar e-Commerce di Asia Tenggara.

 

 

Sumber:

https://www.iacc.org/iacc-and-amazon-initiate-new-brand-engagement-program

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search