Ini Peran HRD Sebagai Garda Terdepan Melawan Kecurangan

 In Artikel

Laporan PricewaterhouseCoopers yang dirilis dalam Global Economic Crime Survey tahun 2007, mencatat angka yang cukup fantastis untuk rata-rata total kerugian finansial satu perusahaan karena fraud atau kecurangan yaitu sebesar 3,2 juta USD.

Fakta lainnya, umumnya kecurangan dilakukan oleh individu-indidu di internal perusahaan. Global Fraud Survey yang dilakukan oleh Kroll dan Economic Intelligence Unit pada tahun 2011 menemukan bahwa 60% kecurangan dilakukan oleh senior managers, pegawai junior atau pihak ketiga. Survei tersebut dilakukan terhadap sekitar 1.268 responden senior eksekutif dari berbagai industri.

Dari kedua data tersebut bisa kita simpulkan bahwa tindakan kecurangan sangat merugikan perusahaan dan sebenarnya bisa dicegah. Maka, Human Resources Department (HRD) memegang peran penting untuk mencegah terjadinya kecurangan.

 

Dimulai dari proses rekrutmen

Tindakan pencegahan dimulai dengan mempraktikkan proses rekruitmen yang seksama. Selama proses perekrutan minta dan galilah informasi terkait kandidat sebanyak mungkin. Pre-employment screening menjadi tahapan penting dalam proses ini karena memungkinkan perusahaan untuk mengetahui kebenaran data-data yang diberikan oleh kandidat, reputasi, bahkan tendensi perilakunya.

 

Penegak kebijakan

Peran HRD dalam penegakan kebijakan anti-fraud perusahaan diimplementasikan melalui program pelatihan bagi manajer dan karyawan. Pelatihan meliputi metode pencegahan dan sistem pelaporan kecurangan.

 

Pengamat dan analis

Laporan ACFE 2012 menemukan bahwa 81% kasus kecurangan, para pelakunya menunjukkan sebuah atau beberapa perilaku mencurigakan yang kerap berhubungan dengan terjadinya tindak kecurangan. Oleh karena itu, peran HRD sebagai ‘pengamat dan analis’ sangat penting terkait dengan sistem untuk mengawasi dan menganalisis perubahan terhadap perilaku para pegawai dan hubungan antar pegawai.

 

Kontrol internal

Peran HR sebagai pengendali internal sangat penting. Praktiknya, HRD bisa memastikan tak ada individu yang memiliki kontrol finansial perusahaan berlebihan, menyediakan program asistensi untuk membantu pegawai yang mengalami tekanan yang signifikan dan program engagement karyawan. Pada intinya, program-program semacam itu didesain untuk mengurangi peluang pegawai melakukan kecurangan.

 

 

Sumber:

http://www.acfe.com/rttn-highlights.aspx

PricewaterhouseCoopers (2007). Economic crime: people, culture and controls The 4th biennial Global Economic Crime Survey

http://www.unwe.bg/uploads/Alternatives/Article08_02.2012.pdf

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search