Cegah Kejahatan Finansial, Ini 3 Teknologi Mutakhir yang Berkembang di 2018

 In Artikel

Perkembangan teknologi digital membawa keuntungan sekaligus ancaman. Dengan semakin banyaknya bisnis yang terhubung secara digital, maka semakin meningkat pula laporan terkait risiko kemanan siber di seluruh dunia. Risiko kejahatan finansial, menjadi ancaman yang lebih besar dari sebelumnya bagi sebuah institusi keuangan.

Cybersecurity Ventures memperkirakan kejahatan siber akan merugikan dunia sebesar USD 6 triliun per tahun hingga tahun 2021 dari sebelumnya USD 3 triliun pada 2015. Kerugian tersebut termasuk kerusakan data, uang yang hilang, produktivitas yang hilang, pencurian kekayaan intelektual, pencurian data pribadi dan finansial, penggelapan, kecurangan (fraud), investigasi forensik, restorasi data dan sistem, dan kerusakan reputasi.

Seiring dengan meningkatnya ancaman keamanan dan cepatnya perkembangan digital, perusahaan, penyedia solusi keamanan siber, dan pengembang teknologi harus bekerja lebih cepat dan giat daripada sebelumnya untuk tetap bisa mengimbangi ‘permainan’para pelaku kejahatan siber. Aman saja tak cukup, perusahaan harus berupaya tetap selangkah di depan para pelaku.

Di tahun 2018 ini ada beberapa teknologi kemanan siber yang sudah mulai diadopsi dan dinantikan perkembangannya:

1. AI-based AML

Kecerdasan Buatan menjadi alat yang sangat diperlukan dalam melawan kejahatan finansial, seperti penipuan dan pencucian uang. Solusi AML (Anti-Money Laundering) berbasis AI dapat mengotomatisasi proses pencarian, pemetaan dan menghubungkan aktivitas perusahaan atau individu yang telah ditandai sebagai melakukan aktivitas kecurangan. Manfaat solusi ini dirasakan oleh bank OCBC yg sudah mulai mengadopsi AI-AML. Proses penyusunan berkas komprehensif pihak-pihak yang dicurigai yang tadinya memakan waktu satu jam menjadi hanya hitungan menit.

2. Cognitive trading financial tools

Perkembangan ekonomi global yang saling terhubung membawa industru perdagangan ke level yang lebih tinggi. Praktik hukum dan kontrak menjadi lebih rumit dan sulit diprediksi yang meningkatkan risiko praktik kecurangan dan pencucian uang.

Tim pembiayaan piutang dan perdagangan HSBC (GTRF) memproses lebih dari USD 500 miliar dalam perdaganan dokumenter setiap tahun dan meninjau 100 juta halaman secara manual. Proses manual ini meningkatkan risiko human error, pelanggaran kepatuhan, dan kecurangan. Bersama IBM, HSBC telah mengembangkan solusi kognitif yang bisa mendokumentasi keuangan fisik menjadi format digital. Proses otomatisasi ini sangat efektif dan efisien, sehingga tenaga manusia bisa dialihkan untuk fokus pada tugas kognitif dan analitis, misalnya menemukan kaitan antara dokumen yang ditandai dengan transaksi yang tak sesuai.

3. Blockchain

Meskipun mata uang digital seperti Bitcoin masih dipertanyakan keabsahannya, namun sistem keamanan yang digunakan – blockchain – dipercaya secara aktif dapat membantu perusahaan dalam kepatuhan regulasi KYC dan AML. Buku besar terdistribusi teknologi blockchain yang sifatnya transparan dan tidak dapat diubah menjadi kelebihan sistem keamanan ini. Blockchain memungkinkan terjadinya pengurangan error dengan otomatisasi, sementara catatan transaksi yang dilakukan klien perindividu disimpan dalam buku besar terdistribusi.

 

 

sumber:

https://www.csoonline.com/article/3153707/security/top-5-cybersecurity-facts-figures-and-statistics.html

Emerging Technologies That Are Shapping The Anti-financial Crime Market. AML & Financial Crime Asia Summit 2018

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search