Belajar dari Kasus Madoff Hingga Koperasi Pandawa Lima, Inilah 4 Indikator Investasi Bodong

 In Artikel

Skema Ponzi, skema investasi yang lahir pada tahun 1920 ini selalu konsisten dengan tujuannya yaitu menghasilkan uang dengan cepat. Namun, skema yang ditawarkan sesungguhnya merugikan para investornya. Skema ini diambil dari nama Charles Ponzi yang menemukan dan mempraktikkan skema ini.
Skema ini pada dasarnya adalah praktik gali lubang tutup lubang. Si pelaku membayar investor lama dengan uang dari investor baru dan mengambil beberapa bagian dari uang tersebut untuk keuntungannya.

Siklus ini berputar seterusnya. Tentu saja pelaku akan terus membutuhkan investor baru jika ingin skemanya berjalan dan terus mendapat keuntungan. Namun, pada satu titik pelaku akan membawa kabur uang investor atau kehilangan kemampuan untuk membayar kembali para investornya karena pada dasarnya uang investor tidak dikelola dan dikembangkan.
Contoh kasus Skema Ponzi yang terkenal adalah kasus yang dilakukan oleh figur kontroverisal Bernie Madoff pada tahun 2008 di mana ia dihukum penjara 150 tahun karena merugikan para investornya. Kerugian yang disebabkannya ditaksir mencapai USD 17,5 miliar.

Ada banyak kasus praktik Skema Ponzi. Di Indonesia kita ingat ada kasus First Travel. Kasus penipuan tur haji dan umroh yang mencuat pada Agustus 2017 ini mengakibatkan kerugian yang totalnya sementara mencapai Rp 848 miliar. Kasus Skema Ponzi yang terbaru yaitu pada Desember 2017 yang dilakukan oleh Koperasi Pandawa Lima mengakibatkan kerugian hingga Rp 50 miliar.

Dari banyak kasus penipuan investasi yang terjadi, kita bisa mengidentifikasi atau mencurigai sebuah investasi mempraktikkan Skema Ponzi jika:

  1. Menawarkan keuntungan dengan risiko kecil. Prinsip dasar investasi seharusnya keuntungan yang tinggi diikuti risiko yang tinggi. Jika ada investasi yang menawarkan sebaliknya, maka sepatutnya kita curiga.
    Madoff menjanjikan pengembalian investasi yang konsisten, padahal jelas bahwa pasar saham selalu fluktuatif. Pada kasus koperasi Pandawa Lima, perusahaan menawarkan bunga 10% – jauh lebih tinggi dari bunga deposito – yang dibayarkan tiap bulan pada investor.
  2. Asal uang yang tak dapat dijelaskan. Pelaku kerap menerangkan alur kompleks yang sulit dipahami dan tak jelas untuk menghasilkan keuntungan yang besar. Contohnya, mengatakan kalau invetasinya melibatkan banyak bisnis yang tak dapat dijelaskan secara detail cara kerja pengembangan dan perputaran uang investasi.
  3. Tak ada produk/jasa yang dijual. Kalaupun ada sebagai kedok saja dan tak ada jaminan bagi pembelian.
  4. Kerap berpura-pura enggan mengambil uang investor untuk meredakan kecurigaan. Mereka juga kerap menyebut kata-kata seperti ‘bank’, ‘bursa efek’, ‘voucher’, ‘garansi’ atau ‘trust’ meskipun skema perputaran uang yang mereka jelaskan sulit dan banyak hal yang ditutupi.

 

 

Sumber:
https://www.npr.org/sections/money/2012/07/30/157606305/four-signs-your-awesome-investment-may-actually-be-a-ponzi-scheme
http://analisis.kontan.co.id/news/belajar-dari-kasus-investasi-madoff

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search