Belajar Dari Giatnya Louis Vuitton dan Alibaba Melawan Pemalsuan

 In Artikel

Pemalsuan menjadi masalah yang tak pernah selesai bagi sebuah merek ternama. Menurut World Customs Organization, beredarnya produk palsu menyebabkan kerugian industri fashion senilai lebih dari 5 miliar poundsterling dan sebanyak 400,000 orang kehilangan lapangan pekerjaan dalam kurun waktu 20 tahun.

Louis Vuitton sebagai merek mewah paling berharga di dunia dengan nilai USD 28,1 miliar dianggap paling agresif dalam hal memerangi pemalsuan. Dengan adanya departemen legal dan budget tahunan 15 juta euro, merek asal Perancis ini tak ragu untuk menjaga produknya dari para pemalsu.

Merek mewah ini memang terkenal ‘galak’ soal pemalsuan karena LV menjadi salah satu merek mewah yang kerap dipalsukan. Salah satu dari banyak kasus pemalsuannya yang terkenal yaitu kasus LV melawan Singga Enterprise. Perusahaan berbasis di Kanada tersebut akhirnya harus bertekuk lutut dengan membayar tuntutan sebesar USD 1,4 juta pada LV.

 

Era digital mempermudah distribusi

Perkembangan internet membawa masalah pemalsuan ke tahap yang lebih tinggi karena pemalsu menemukan cara yang lebih sederhana untuk menjangkau konsumen di belahan dunia manapun. Kini, produk-produk palsu bisa ditemukan di banyak e-commerce dan platform online.

Kasus yang pernah terjadi pada 2011 yaitu LV menuntut e-Bay membayar ganti rugi sebesar 38,6 juta euro atau setara 658 miliar. Pada medio tahun lalu LV menuntut seorang seller Amazon sebesar USD 60 juta karena memperdagangkan produk palsu.

 

Kolaborasi di rantai pasok

Perkembangan yang signifikan dalam dunia digital membuat merek harus bekerja lebih giat lagi melawan pemalsuan. Alih-alih bekerja sendiri, merek dituntut untuk giat berkolaborasi dengan pihak terkait di rantai pasok. Dalam hal ini LV dan Alibaba bekerja sama melawan pemalsuan dengan memanfaatkan analitik dan big data.

Alibaba sendiri merupakan raksasa e-commerce asal Tiongkok yang terkenal sebagai pasar barang palsu terbesar. Saking banyaknya barang palsu yang diperdagangkan di platform ini, e-commerce milik Jack Ma ini dimasukkan dalam daftar hitam counterfeit goods watch list.Sejak saat itu Alibaba berbenah diri.

Tahun lalu Alibaba mengumumkan berdirinya Alibaba Group Anti-Counterfeiting Alliance (AACA) dengan lebih dari 20 merek internasional tergabung di dalamnya termasuk Louis Vuitton. Sikap proaktif tersebut sepertinya mulai membuahkan hasil. Berdasarkan laporan Alibaba mengemukakan rata-rata pengembalian dana karena produk-produk yang dicurigai palsu pada tahun 2017 berkurang hingga 29% dibanding tahun 2016 di periode yang sama.

 

 

Sumber:

https://www.forbes.com/sites/realspin/2015/06/25/as-louis-vuitton-knows-all-too-well-counterfeiting-is-a-costly-bargain/#304b41d160d3

https://fashionista.com/2017/06/louis-vuitton-counterfeit-lawsuit

http://www.china.org.cn/business/2018-01/11/content_50214461.htm
TEA / 123RF Stock Photo

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search