Screening Media Sosial: 49% Perekrut Putuskan Tak Pekerjakan Kandidat

 In Artikel, Indonesia

Berdasarkan Pew Research, persentase generasi millennial mencakup 27% dari populasi penduduk dunia. India, Tiongkok, Amerika Serikat, Indonesia dan Brazil adalah lima negara dengan jumlah populasi millennial  terbanyak.

Generasi millennial – lahir tahun 1982-2004 – dikenal sebagai generasi yang melek teknologi dan selalu ‘terhubung’. Generasi ini adalah mereka yang terbiasa mengoperasikan TV dengan remote sejak kecil, tumbuh remaja dengan Friendster, menjadi dewasa dan lekat dengan smartphone.

Di Indonesia sendiri populasi millennial mencapai 85 juta pada tahun 2013. BPS memperkirakan persentase usia produktif populasi di Indonesia akan mencapai puncaknya dalam sejarah sebesar 64% dari total populasi atau sekitar lebih dari 300 juta jiwa hingga tahun 2035. Artinya, saat itulah tenaga kerja di Indonesia didominasi oleh generasi millennial. Tren peningkatan angkatan kerja millennial mendorong perusahaan perlu melakukan penyesuaian, salah satunya terkait proses perekrutan.

 

Screening media sosial

Secara umum, seorang millennial setidaknya punya satu akun media sosial, bisa itu Facebook, Twitter, Instagram atau lainnya. Mereka cenderung suka berbagi informasi, spoken out dan attention seekerdi ranah digital demi mendapatkan banyak ‘likes’, ‘comment’ dan ‘followers’. Perilaku generasi ini yang cenderung terbuka di ruang digital, bisa dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mencari tahu sisi lain dari kandidat karyawannya melalui screening media sosial.

Survei yang dilakukan oleh CareerBuilder menemukan sebanyak 49% manajer rekrutmen yang menggunakan mesin telusur untuk menelusuri kandidat, menemukan informasi melalui media sosial yang membuat mereka memutuskan untuk tak mempekerjakan kandidat. Namun, survei tersebut juga menemukan bahwa sekitar 32% dari perekrut yang men-screening kandidat melalui media sosial menemukan informasi yang membuat mereka memutuskan untuk mempekerjakan kandidat.

 

Apa yang dicari melalui screening media sosial?

Informasi profil akun media sosial kandidat bisa saja memberikan informasi yang disukai atau tidak disukai tergantung kebijakan perusahaan. Contohnya, dari foto yang diposting seorang kandidat di profilnya menunjukkan ia pernah mengikuti sebuah gerakan massa yang legal. Bisa jadi bagi perusahaan itu tak masalah karena menurut perusahaan itu adalah bagian dari demokrasi, tapi bagi perusahaan lain mungkin kandidat tersebut tak cocok dengan imagedan kultur perusahaan terlepas dari status gerakan massa tersebut.

Dari hasil survei tersebut ditemukan pula beberapa jenis informasi dari media sosial yang umumnya mendorong perekrut memutuskan tak merekrut kandidat, yaitu:

  • Foto, video atau informasi yang provokatif dan tak layak (46%)
  • Informasi terkait kebiasaan minum dan konsumsi obat terlarang (43%)
  • Komentar diskriminasi terkait ras, agama, jenis kelamin dan sebagainya (33%)
  • Postingan menghina teman kerja atau perusahaan sebelumnya (31%)
  • Keterampilan komunikasi yang payah (29%)

Sedangkan jenis informasi dari media sosial kandidat yang umumnya membuat perusahaan memutuskan untuk mempekerjakan mereka, yaitu:

  • Informasi latar belakang yang mendukung kualifikasi pekerjaan (44%)
  • Foto, video, postingan yang menunjukkan image profesional seorang kandidat (44%)
  • Kepribadian kandidat yang sesuai dengan kultur perusahaan (43%)
  • Kandidat menunjukkan ketertarikan pada banyak hal (40%)
  • Kandidat memiliki keterampilan komunikasi (36%)

 

Tantangan screening media sosial

Media sosial bisa menjadi sumber informasi berharga bagi perusahaan yang mungkin tak ditemukan dalam resume kandidat atau tak akan pernah terungkap dalam sebuah sesi wawancara. Namun, screening media sosial tak selalu mudah.

Pada dasarnya semua informasi yang terbuka untuk publik, legal untuk diakses. Tak jadi masalah ketika kandidat menampilkan profil media sosialnya terbuka untuk publik. Masalah adalah ketika profil tersebut di-setting private.Beberapa perusahaan mungkin mencari dan menggunakan secara diam-diam login information akun milik kandidat yang berpotensi melanggar kebijakan privasi, beberapa lagi mengirimkan friend request yang belum tentu di-approve oleh kandidat.

Melakukan screening media sosial sendiri berpotensi menyebabkan masalah hukum dan etika. Alternatifnya, perusahaan bisa menggunakan jasa screening pihak ketiga yang terpercaya. Mereka akan memberikan data media search yang komprehensif dan metode yang berpatok pada hukum yang berlaku.

 

 

Sumber:

http://www.infomart-usa.com/blog/employers-conduct-social-media-background-checks/

http://www.esrcheck.com/wordpress/2016/12/15/millennials-in-workforce-will-make-employers-change-methods-of-background-screening-job-applicants/

https://www.pressreader.com/indonesia/the-jakarta-post/20170731/281724089626819

https://www.theatlantic.com/national/archive/2014/03/here-is-when-each-generation-begins-and-ends-according-to-facts/359589/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search