Penipuan Bisnis Umrah dengan Skema Ponzi

 In Artikel, Indonesia

Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), skema Ponzi adalah suatu praktek bisnis ilegal yang menggunakan uang investasi dari nasabah baru untuk membayar nasabah lama. Secara umum skema Ponzi berkedok bisnis akan meminta nasabah baru untuk menanam modal dan menjanjikan keuntungan yang besar dengan resiko yang kecil dan bahkan tanpa resiko. Untuk memperoleh kepercayaan dari para nasabahnya, pelaku skema Ponzi akan membayar keuntungan yang besar kepada nasabah lama sehingga secara otomatis mereka akan membantu mengiklankan bisnis tersebut kepada orang lain yang berpotensi menjadi nasabah baru. Skema Ponzi mengandalkan uang baru, sehingga selama banyak nasabah baru yang masuk, maka bisnis dengan skema ini akan terus berjalan.

Di Indonesia puluhan ribu orang menjadi korban dari penipuan bisnis umrah yang menggunakan skema Ponzi. Seperti yang dilansir oleh Jakarta Post, First Travel berdiri pada tanggal 1 Juli 2009 dengan menawarkan paket perjalanan domestik dan mancanegara. Pada tahun 2011 First Travel mendapatkan ijin dari Menteri Agama untuk menjual paket umrah. First Travel kemudian menjual paket dengan harga yang lebih murah sebesar Rp 4 juta dibandingkan dengan harga yang disarankan oleh Menteri Agama maupun yang ditawarkan oleh agen umrah lainnya. Harga yang lebih murah ini lantas menarik banyak orang yang ingin melakukan umrah namun dengan anggaran yang terbatas. Pada tahun 2012 First Travel memberangkatkan sekitar 800 jemaah dan di tahun berikutnya mereka memberangkatkan sekitar 3.600 jemaah. Jumlah ini terus meningkat dengan adanya dukungan dari para artis yang terkenal. Di tahun 2014 First Travel memberangkatkan 14.700 jemaah dan di tahun 2016 sebanyak 35.000 jemaah. Jumlah jemaah yang besar tersebut membuat First Travel menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena memberangkatkan jemaah dalam jumlah yang besar. Dalam 5 tahun usia bisnisnya, First Travel telah berhasil memberangkatkan lebih dari 50.000 jemaah.

Masalah demi masalah mulai muncul saat First Travel gagal memberangkatkan jemaahnya di bulan Maret 2017. Para jemaah yang dijanjikan untuk berangkat justru harus menginap di hotel sekitar bandara Soekarno-Hatta tanpa penjelasan dari First Travel. Biaya untuk menginap pun mereka tanggung sendiri. Dua bulan kemudian sebanyak 600 jemaah dari Jawa Timur juga gagal berangkat dan terlantar selama empat hari tanpa penjelasan. Hal ini membuat Menteri Agama bertindak dalam menyelidiki First Travel.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa pemilik sekaligus direktur dari First Travel Andika Surachman menjadi dalang di balik penipuan, penggelapan dan pencucian uang melalui bisnis umrah beserta istrinya, Annies Devitasari Hasibuan dan adik ipar, Kiki Hasibuan. Seperti yang dimuat dalam Jakarta Post, setidaknya penggelapan ini menyebabkan kerugian sebesar Rp 848,7 milyar terhadap 58.682 orang. Penipuan ini juga merugikan beberapa agen perjalanan lain yang membawa jemaah bagi First Travel. Setiap agen ini diwajibkan membayar uang senilai Rp 2,5 juta untuk menjadi agen First Travel dan dijanjikan komisi untuk setiap orang yang mau membeli paket umrah. Banyak dari para korban ini berasal dari desa maupun kota-kota kecil dan telah berupaya mengumpulkan uang untuk melakukan umrah namun tidak diberangkatkan.

First Travel menghadapi tuntutan untuk mengembalikan seluruh uang yang telah diperolehnya. Polisi menyita beberapa aset termasuk dua buah rumah, dua rumah sewa, tiga kantor, sebuah butik dan lima buah mobil mewah. Sebanyak tiga puluh satu buku tabungan juga disita oleh para penyelidik. Selama penyitaan di beberapa tempat, polisi mengamankan 14.000 paspor, telepon seluler, pedang, dan beberapa senjata replika. Sedikitnya lima puluh akun bank berisi total 7 milyar rupiah milik First Travgel dibekukan, termasuk tujuh akun asuransi.

First Travel bukanlah satu-satunya agen yang melakukan kejahatan ini. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), ada banyak agen perjalanan yang melakukan skema serupa. Bisnis umrah di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki permintaan yang luar biasa terlepas dari kuota tahunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi bagi Indonesia, yakni hanya 231.000 jemaah. Menteri Agama menetapkan 1.650 dolar Amerika sebagai standar harga termurah untuk paket umrah, namun tidak ada peraturan ketat mengenai harga minimal yang ditetapkan. Hal ini mengakibatkan insiden seperti jemaah yang terlantar maupun janji-janji yang tidak ditepati. Untuk mencegah warganya memilih travel perjalanan yang ilegal, Menteri Agama mendorong untuk menggunakan aplikasi bernama Umrah Cerdas.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search