Indonesia Melawan Ijazah Palsu

 In Artikel, Indonesia

Bisnis ijazah palsu sudah menjadi bisnis yang besar di Indonesia selama puluhan tahun. Di negara berkembang ini, menempuh pendidikan sarjana seperti menjadi sebuah keharusan karena ijazah ini menjadi syarat untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan bahkan syarat wajib bila ingin melamar untuk posisi di pemerintahan. Sayangnya, meskipun memiliki pengalaman kerja yang baik, mereka yang tidak memiliki ijazah sarjana cenderung dibayar lebih rendah dibandingkan pemegang ijazah sarjana. Perbedaan tingkat ekonomi di masyarakat mempersulit kondisi ini karena lulusan universitas yang terkenal seperti memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan, gaji yang lebih tinggi, serta membantu dalam peningkatan karir baik di perusahan maupun politik.

Ijazah diperlakukan sebagai simbol dari status ekonomi dan sosial di masyarakat Indonesia. Seiring dengan komersialisasi pendidikan termasuk di tingkat universitas, pendidikan sarjana menjadi komoditas yang mewah dan hanya dapat dirasakan oleh masyarakat dari kalangan ekonomi yang mampu. Kondisi ini membuat keluarga yang tidak mampu sulit untuk menyediakan biaya pendidikan sarjana bagi anak-anak mereka. Tekanan untuk menjadi berhasil ini sangat besar, sehingga mendorong masyarakat untuk mencari jalan pintas dengan memperoleh ijazah palsu.

Pada tahun 2015, media di Indonesia menyorot masalah bisnis ijazah palsu saat salah satu politisi menyatakan bahwa ia memperoleh ijazahnya dari University of Berkley Michigan Amerika. Pernyataan ini mendorong Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) meninjau lebih lanjut institusi yang memberikan ijazah tersebut. Di dalam penyelidikannya, ditemukan bahwa institusi tersebut adalah International Management Institution of Indonesia (LMII) yang mengaku sebagai cabang dari University of Berkley di Michigan, Amerika. LMII sudah beroperasi lebih dari 10 tahun dengan menyediakan pendidikan online S1 dan S2. Pendidikan jalur online ini menawarkan para mahasiswanya untuk hadir di kelas hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Ijazah “luar negeri” yang ditawarkan segera menarik banyak mahasiswa yang ingin memperoleh ijazah tanpa harus menempuh pendidikan di luar negeri. Namun demikian, diketahui bahwa “University of Berkley” tidak pernah ada dan bahwa sebenarnya nama tersebut adalah nama yang diambil dari University of California yang berlokasi di Berkeley. Universitas tersebut adalah salah satu dari universitas terbaik yang ada di Amerika. Hasil investigasi menunjukkan bahwa LMII adalah universitas palsu yang mendapatkan ijin hanya untuk sebuah program pendidikan yang singkat dan bahwa program pendidikan jalur online tidak diakui oleh Amerika. LMII tidak dapat menyedikan dokumen yang diminta oleh tim audit dan kemudian dilaporkan telah melanggar hukum. Namun sayangnya pada saat institusi ini ditutup, LMII telah menyebarkan lebih dari 200 ijazah palsu kepada para alumninya.

LMII hanyalah salah satu dari penemuan investigasi terhadap bisnis pendidikan di Indonesia. Ijazah palsu sangat mudah diperoleh, dan para pembeli dapat memilih dari universitas manakah mereka ingin “lulus”. Biasanya nama universitas-universitas terkenal baik di dalam maupun di luar negeri ditawarkan kepada calon pembeli. Ijazah ini diproduksi di berbagai tempat dan dihargai mulai dari Rp 500.000 hingga beberapa juta. Seorang penjual ijazah palsu yang dibantu oleh beberapa rekan lainnya dapat menjual lebih dari 500 ijazah palsu setiap tahunnya.

Selain ijazah palsu, ada pula ijazah ilegal. Ketika sebuah universitas terakreditasi gagal memperbaharui akreditasinya, maka universitas tersebut dilarang beroperasi dan mengeluarkan ijazah. Bila universitas tersebut tetap mengeluarkan ijazah, maka ijazah tersebut dianggap ilegal dan tidak diakui oleh pemerintah. Ijazah palsu juga dapat diberikan oleh universitas kepada mahasiswa yang tidak sepenuhnya mengikuti prosedur akademik yang benar, dengan kata lain, mahasiswa membeli ijazah dari universitasnya. Berdasarkan data dari Menristek Dikti, ada sekitar 18 universitas yang diketahui menjual ijazah ilegal kepada mahasiswanya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia menyatakan bahwa barangsiapa yang terlibat di dalam mengeluarkan ijazah palsu akan dikenai maksimal 5 tahun penjara atau denda sebesar Rp 500 juta.

Untuk memberantas bisnis ijazah palsu ini, Pemerintah mengambil sikap tegas antara lain pemeriksaan terhadap ijazah dan latar pendidikan seluruh pegawai negeri. Bila ditemukan adanya laporan terhadap anggota politisi maupun pegawai negeri yang menggunakan ijazah palsu maka mereka akan dikenakan sanksi dan bahkan demosi. Menteri terkait juga membuat Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL) dan memerintahkan agar seluruh perguruan tinggi mendaftarkan ijazah yang dikeluarkan untuk memastikan validitasnya. Sistem ini terbuka bagi umum dan dapat diakses oleh perusahaan yang ingin memeriksa latar belakang pendidikan calon karyawannya. Selain itu sebuah website yang berisi daftar perguruan tinggi resmi juga tersedia bagi calon mahasiswa sehingga dapat terhindar dari mendaftar ke perguruan tinggi yang ilegal.

 

 

 

Sumber:

  • http://jakartaglobe.id/news/indonesia-hunt-fake-academic-credentials-among-lawmakers/

  • http://www.thejakartapost.com/news/2015/05/29/police-crack-down-fake-degrees.html

Recent Posts

Start typing and press Enter to search